Laman

Sabtu, 27 September 2014

GOLONGAN - GOLONGAN YANG TERTIPU









GOLONGAN - GOLONGAN YANG TERTIPU

Judul : Menuju Labuhan Akhirat Judul asli : Al-ajwibat Al-Ghazaliyah Wa al-Mas’alat al-Ukhrawiyah Al-Durrat al-Fakhirah fi kasyfi Ulumi al-Akhirah Risalah al-Laduniyah Al Kasyfa wa al-Tabyin fi Ghurur al-Kholq Ajma’in Al-Mawaidh fi al-Hadits al-Qudsiyah Penulis : Imam Abu Hamid al-Ghazali Penterjemah : Drs. Masyhur Abadi dan Drs. Husain Aziz MA.

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, keluarga dan sahabat-sahabatnya, amin.

Makhluk itu terbagi menjadi dua ; hewan dan bukan hewan. Hewan terbagi lagi, mukallaf dan non-mukallaf.

Mukallaf adalah orang-orang yang diperintahkan untuk beribadah kepada Allah. Bagi mereka pahala di sisi-Nya. Juga larangan melakukan maksiat, supaya terhindar dari siksaan-Nya. Adapun non –mukallaf adalah mereka yang tiada pernah mempunyai larangan baginya.

Mukallaf terbagi ; mukmin dan kafir. Mukmin terbagi lagi ta’at dan durhaka. Masing-masing dari mukmin dan kafir terbagi menjadi dua bagian ; ‘alim dan jahil (bodoh)

Kami melihat bahwa ketertipuan itu telah merebak dan merata pada seluruh mukallaf, mukmin dan kafir, kecuali orang-orang yang dilindungi Allah Subhanahu wa ta’ala. Dalam hal ini dengan kami dengan izin Allah akan mengungkap ketertipuan mereka, berikut dasar-dasarnya.

Ketahuilah bahwa orang-orang tertipu selain orang-orang kafir ada empat golongan : Ulama, ahli ibadah, pemilik harta, dan ahli tasawuf. Disamping ketertipuan orang-orang kafir, ketertipuan dimaksud ada yang berupa tipuan kehidupan dunia, ada pula yang disesatkan oleh setan.

Mereka yang tertipu oleh kehidupan dunia adalah mereka yang berpendapat bahwa kelezatan dunia pasti adanya (baca;mutlak) sementara kelezatan akhirat masih meragukan dan hal-hal yang pasti tidak mungkin ditinggalkan untuk mencari hal-hal yang diragukan. Ini adalah analogi iblis.

Mengobati ketertipuan semacam ini dapat dilakukan dengan melalui iman dan dengan argumentasi. Iman adalah membenarkan firman Allah ;

“ Sedangkan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan kekal – Al-Qashash:60

“ Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” – Ali-Imron:105

Selanjutnya membenarkan apa yang di bawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. Adapun argumentasi adalah dengan mengetahui kelemahan analoginya. Akhirat adalah lebih baik daripada dunia. Keyakinan ini ada dua pemahaman ; pertama, beriman dengan jalan taqlid pada para nabi dan ulama, seperti ia mengikuti seseorang yang ahli dalam pengobatan. Kedua, adalah wahyu para nabi dan ilham pada wali. Jangan mengira bahwa pengetahuan para nabi terhadap masalah-masalah akhirat dan masalah keduniawian merupakan taqlid kepada malaikat Jibril as. Karena taqlid bukan pengetahuan yang benar, tetapi segala sesuatu tersingkap kepada mereka dan mereka dapat melihat benda-benda nyata.

Orang-orang mukmin yang menyia-nyiakan perintah Allah, amal shaleh dan mengatasi semua persoalannya berdasarkan hawa nafsu dan syahwat, maka mereka sama dengan orang-orang kafir. Sementara kehidupan dunia ini tidak lebih dari permainan yang menipu, baik bagi orang-orang kafir maupun orang mukmin.

Adapun contoh ketertipuan orang-orang kafir mengenai Allah adalah seperti ucapan mereka, “ Allah akan mengembalikan kami dan kami berhak dari yang lainnya”, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Kahfi :

“ Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku mengira hari kiamat itu tidak akan datang, dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari kebun itu.”-Al-Kahfi:35-36

Ini adalah analogi iblis. Demikian itu karena mereka melihat pada nikmat-nikmat Allah atas mereka di dunia, dan ini pula yang mereka jadikan ukuran akan nikmat akhirat, sebagaimana firman Allah ;

“ Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu - Al-Mujadilah:8

Pada sisi lain mereka melihat orang-orang mukmin yang hidupnya melarat, lalu mengejek dan mengatakan ;

“ Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugrah oleh Allah kepada mereka?”- Al-An’am:53

Dan mengatakan ;

” Kalau kiranya dia (Al-Qur’an) adalah sesuatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami kepadanya.” - Al-Ahqaaf:11

Akhirnya mereka mengatakan ; ” Allah telah berbuat baik kepada kami dengan memberi nikmat dunia. Setiap orang yang berbuat baik berarti ia pecinta, dan setiap pecinta pasti berbuat baik kepada yang di cintai “. Padahal sebenarnya tidak demikian. Bisa saja berbuat baik, namun tidak mencintai. Bahkan, boleh jadi kebaikan itu menjadi penyebab kehancuran secara berangsur-angsur.

Itulah inti ketertipuan. Oleh karena itu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, bersabda ; “ Allah melindungi hamba-Nya yang mukmin dari dunia, seperti salah seorang dari kalian melindungi si pasien dari makanan dan minuman, sementara ia mencintainya. Begitu juga orang-orang yang ma’rifat, bila didatangi harta kekayaan, mereka sedih dan bila ditimpa kefakiran mereka senang dan berkata, “ Selamat datang hamba-hamba orang shalih”. Allah Subhana wa ta’ala berfirman :

“ Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya, telah dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka ia berkata, Tuhanku telah memuliakan aku”. –Al-Fajr:15

“ Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar “. –Al-Mukminun:55-56

“ Nanti kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui”. –Al-Araf:182

“ Dan Aku berikan tanggal kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku sangat teguh”. –Al-Araf:183

“ Maka tatkala mereka lupa peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kamipun membukakan semua pintu kesenangan kepada mereka, sehingga apabila mereka telah bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”. –Al-An’am:44

Pangkal ketertipuan ini adalah kebodohan dan ketidaktahuannya kepada Allah dan sifat-sifat-Nya. Barang siapa mengetahui Allah, maka mereka merasa tidak aman dari murka-Nya. Mereka tidak melihat bahwa kekayaan yang melimpah yang di berikan Allah kepada Fir’aun, Haman dan Namrud telah mengantarkan mereka menuju siksaan-Nya yang pedih. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

“ Tiadalah merasa aman dari azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi”. –Al-A’raf:99

“ Orang-orang kafir membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.-Ali-Imran:54

“Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu, yaitu beri tangguhlah mereka barang sebentar.” – At-Thariq:17

Karenanya, waspadalah jika Allah memberikan kekayaan kepada kita, agar semua itu tidak menjadi siksaan.

Adapun ketertipuan orang-orang mukmin yang maksiat (durhaka) adalah seperti pandangan mereka bahwa Allah itu Maha Pengampun dan Maha Pengasih. Mereka meyakini hal itu, tetapi mengabaikan amal. Memang, dari segi harapan hal itu terpuji dalam agama. Allah Maha Luas rahmat-Nya, nikmat dan kedermawanan-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Kita beriman dan dengan sarana iman itu kita berharap kedermawanan dan kebaikan menyertai kita.

Pada sisi lain, boleh jadi pangkal ketertipuan mereka adalah karena mengandalkan kebaikan bapak dan ibu mereka. Analogi mereka telah dimasuki tipu daya setan. Mereka mengatakan,” Orang yang mencintai seseorang, ia akan mencintai bapaknya, sebaliknya ia akan mencintai anaknya.” Hal itu tidak benar. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Nabi Nuh as. Ingin membawa anak-anaknya ke atas perahu bersamanya. Tapi tidak bisa, dan Allah menenggelamkannya beserta kaum Nabi Nuh yang lain. Demikian pula Muhammad, meminta ijin untuk mengunjungi kuburan ibunya dan meminta ampun untuknya. Lalu Allah memberi ijin untuk berziarah, tetapi tidak mengijinkan untuk meminta ampunan. Mereka lupa firman Allah :

“ Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” –Al-Fathir:18

“ Dan bahwasannya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” –An-Najm:39

Maka mereka menyangka bahwa ia akan selamat karena ketaqwaan bapaknya ; itu laksana orang yang menyangka bahwa ia bisa kenyang karena makanan yang dimakan bapaknya. Taqwa adalah fardlu ‘ain dan tidak ada kaitannya dengan orang lain.. Pada saat pembalasan kelak taqwa seseorang itu berpisah dari saudaranya, ibunya, bapaknya, isteri dan anaknya, kecuali dalam jalan syafaat.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda ; “ Orang yang pandai adalah orang yang dapat menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan menaruh berbagai harapan kepada Allah.”

Firman Allah : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” – Al-Baqarah:218

“ Sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”-As-Sajadah:17

Harapan akan sia-sia kecuali setelah dilakukan amal, dan bila tidak, maka disitulah letak ketertipuannya. Harapan itu datang untuk menyejukkan panasnya ketakutan dan keputusasaan. Untuk itulah Al-Qur’an datang untuk memberi petunjuk kepada manusia menuju jalan yang benar.

Ketertipuan mereka yang lain adalah ketertipuan beberapa golongan yang melakukan taat dan maksiat, tetapi kemaksiatannya lebih banyak. Mereka menduga bahwa kebaikannya akan mengungguli kebaikannya. Sungguh suatu kebodohan besar. Lihatlah orang yang bersedekah beberapa dirham dari harta halal dan haram. Ia laksana orang yang meletakkan sepuluh dirham pada neraca timbangan, sementara pada sisi yang lain ia meletakkan 1000 dirham, dengan harapan yang 10 dirham itu dapat mengungguli 1000 dirham. Tidak mungkin.

Ada juga yang berprasangka bahwa ketaqwaannya lebih banyak daripada kemaksiatannya, karena ia tidak menghisab dirinya dan tidak mengetahui langsung kemaksiatannya. Bila melakukan taat, ia menghitungnya, seperti membaca istigfar dan bertasbih 100 atau 1000 kali. Kemudian dia menggunjing orang lain dan berbicara tentang hal-hal yang tidak diridhai Allah. Ia menghitung-hitung keutamaan tasbih, sementara lupa pada ajaran agama yang membicarakan siksaan bagi para pendusta, pengadu domba, dan orang-orang munafik. Inilah ketertipuan yang sebenar-benarnya, menghitung kebaikan yang sedikit, sementara lupa terhadap dosa dan maksiat yang menumpuk.