Laman

Rabu, 23 Juli 2014

Kepada Anakku Dekati Tuhanmu…(1)




 

Kepada Anakku Dekati Tuhanmu…
Judul Asli “ Ayyuhal Walad ” 

Penulis : Abu Hamid Imam Ghazali 
Penterjemah: A.Mudjab Mahali

Wahai, anakku, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memberi umur panjang kepadamu untuk ta’at kepada-Nya dan membimbingmu ke jalan orang-orang yang di cintai-Nya. Nasihat yang ditaburkan ini dikutip dari “Sumber Risalah Muhammad”. Ketahuilah, anakku, jika telah sampai kepadamu suatu nasihat yang bersumber dari sana, maka engkau tidak perlu ragu-ragu terhadap nasihat ini. Jika nasihat itu belum sampai kepadamu, maka katakanlah kepadaku,

“Apa yang telah engkau capai selama ini ?”

Wahai, anakku, simaklah bagian dari nasihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ini :

“ Tanda-tanda kebencian Allah terhadap seseorang ialah apabila ia menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna. Apabila umur seseorang berlalu tetapi ia tidak menggunakannya untuk melakukan ibadah yang diperintahkan Allah, maka pantas baginya menyesal sepanjang masa. Barang siapa yang telah berumur lebih dari empat puluh tahun sedangkan amal baiknya belum mengalahkan kemaksiatannya, maka hendaklah ia bersiaga masuk neraka. “

Wahai, anakku, nasihat itu mudah. Yang sukar adalah menerimanya, sebab nasihat akan terasa pahit bagi orang yang memperturutkan kehendak nafsunya. Ia cenderung menyukai hal-hal yang terlarang, apalagi bagi kaum muda yang membuang-buang waktu dalam mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Mereka menyangka tanpa amalan, ilmu pengetahuan pun akan dapat membawanya pada kebahagiaan dan keselamatan, ini adalah keyakinan ahli-ahli filsafat. Subhanallah!

Ia tidak sadar, bahwa ilmu pengetahuan yang telah di amanatkan kepadanya, wajib diamalkan. Bila tidak, maka hal itu akan memperberat siksa yang ditimpakan kepadanya, seperti yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dalam sabdanya :

Wahai, anakku, semoga Allah memuliakanmu. Ada sebuah kisah tentang mimpi yang dialami oleh orang yang telah meninggal. Ia ditanya. “ Apa khabar wahai Abu Qosim?” Ia menjawab, “ Semua ilmu-ilmu saya hilang lenyap dan tidak berbekas. Tidak ada lagi sesuatu yang memberi manfaat kepada saya, kecuali rakaat-rakaat yang dilakukan dalam shalat di tengah malam.”

Wahai, anakku, janganlah engkau hidup dalam keadaan miskin amal dan kehilangan semangat kerja. Tanamkan dalam dirimu, bahwa ilmu yang tidak disertai amal tidak akan menyelamatkanmu.

Wahai, anakku, simaklah perumpamaan yang hendak kuceritakan ini padamu. Camkanlah, dan katakanlah pendapatmu mengenai cerita ini. Di tengah hutan belantara ada seorang lelaki yang gagah berani membawa sepuluh pedang yang tajam dengan dilengkapi senjata-senjata lain. Tiba-tiba ada seekor singa besar yang sangat buas dan siap menerkam. Menurut kamu, dapatkah senjata-senjata itu melindungi dirinya dari marabahaya, bila senjata itu tidak diangkat, dihunus, dan tidak ditikamkan? Tentu kamu akan menjawab,”Tidak.” Ya, senjata itu tidak akan mendatangkan manfaat sama sekali bila tidak digunakan.

Begitu pula halnya dengan seseorang yang membaca buku tentang seribu masalah dan mempelajarinya dengan mendalam. Apabila ilmu dari bacaannya itu tidak diamalkan maka ilmu itu tidak akan mendatangkan manfaat sedikitpun baginya. Seseorang yang terserang penyakit demam berdarah dan sakit kuning, hanya akan sembuh bila ia menuruti nasihat dokter dan memakan obat yang diberikannya. Ia tidak akan sembuh bila obat itu tidak dimakannya.

Apabila kamu menimbang dua ribu kilogram anggur tentu tidak membuatmu mabuk bilamana tidak kamu minum

Walaupun selama seratus tahun kamu duduk membaca beribu-ribu buku, tapi bila kandungan ilmu yang ada di dalamnya tidak diamalkan maka hal itu tidak akan menghantarkan dirimu kepada kebahagiaan dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah Subhanahu wa ta‘ala berfirman :

“ Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” - An-Najm : 39

“ Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Robbnya.” –Al-Kahfi : 110

“ Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka. Karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka jahanam, sebagai balasan apa yang telah mereka kerjakan.” – At-Taubah : 95

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah surga firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya. Mereka tidak ingin berpindah daripadanya.” - Al-Kahfi : 107-108

“ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih. Maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya sedikitpun.” – Maryam : 59-60

Camkanlah hadist di bawah ini :

“ Islam didirikan di atas lima perkara : Bersaksi bahwa tidak ada ilah yang pantas disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Mendirikan shalat dan menunaikan zakat,. Puasa bulan Ramadhan dan ibadah haji ke Baitullah bagi yang kuasa.”

Iman ialah mengucapkan dengan lisan, mengakui kebenarannya dengan hati dan mengamalkannya dengan anggota badan. Keterangan yang menyatakan bahwa seseorang wajib beramal banyak sekali.

Seseorang dapat mencapai surga dengan limpahan karunia dan kemurahan Allah. Semua itu akan di dapat bila ia mempersiapkan dirinya dengan ketaatan dalam beribadah kepada-Nya. Rahmat Allah hanya mendekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

Jika ada orang yang mengatakan bahwa seseorang dapat mencapai surga hanya dengan iman semata-mata, maka jawabannya adalah “ betul ”. Tetapi kapankah akan sampainya? Berapa banyak kesulitan yang akan dihadapi? Dalam pendakian iman adakah yang tidak selamat? Bilapun mencapai surga, apakah ia tidak rugi dengan bekal amalnya yang sedikit?

Pada hari kiamat nanti. Allah Subhanahu wata’ala berfirman kepada hamba-hamba-Nya :

“ Wahai, hamba-hambaKu, masuklah ke surga dengan rahmat anugrah-Ku. Dan bagilah surga sesuai dengan amalmu masing-masing.”

Wahai, anakku, selama kamu tidak beramal, selama itu pula kamu tidak akan mendapatkan pahala.

Dalam sebuah hikayat diceritakan, ada seorang lelaki dari bani israil yang telah melakukan ibadah selama tujuh puluh tahun. Oleh karena itulah, Allah mengutus malaikat untuk mengabarkan sesuatu kepadanya. Orang itu berkata, “ Kami di ciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya, karena itu dalam beribadah kami tidak mengharapkan sesuatu.”

Maka malaikat yang di utus Allah kembali kepada-Nya seraya berkata, “ Ya Robbku, Engkau lebih mengetahui apa yang dikatakan hamba itu.” Allah berkata,” Wahai malaikatku, apabila ia tidak berpaling dari beribadah kepada-Ku, maka dengan sifat kemurahan-Ku Aku pun tidak akan berpaling darinya. Maka saksikanlah, wahai malaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuni dosa-dosanya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“ Perhitungkanlah dirimu sebelum amalmu diperhitungkan. Dan timbanglah amalmu sebelum di timbang di hari kiamat nanti.”

Sayyidina Ali bin Abi Thalib menegaskan :

“ Barang siapa berprasangka bahwa tanpa bersusah payah ia dapat mencapai surga, maka itu bagaikan mimpi di siang bolong. Barang siapa berprasangka bahwa semata-mata dengan menggunakan kecakapan dan kekuatan ia dapat mencapai sesuatu, maka berarti ia sudah tidak membutuhkan Allah.”

Hasan Bashri juga menerangkan bahwa meraih surga tanpa disertai amal merupakan perbuatan dosa. Tanda orang yang hidup sejati ialah selalu bergantung pada amal, bukan meninggalkan amal.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“ Orang pandai ialah orang yang mengetahui dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Dan orang yang bodoh ialah yang memperturutkan kehendak nafsunya dan selalu berangan-angan kosong terhadap kemurahan Allah.”

Wahai, anakku, bila perjalanan malammu hanya kamu lewati dengan menelaah ilmu pengetahuan, membaca buku dan berdiskusi, amat menyedihkan nasib dirimu!

Anakku, bila motivasi yang ada dalam dirimu hanya untuk mencari kemegahan duniawi, mengejar pangkat dan kedudukan, dan hanya mencari popularitas di antara teman-temanmu, alangkah malang nasibmu!

Tetapi, wahai anakku bila motivasimu ingin menghidupkan syariat dan misi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, dan mengalahkan dorongan nafsu yang terus membawa manusia pada kejahatan, maka berbahagialah dirimu!

Perhatikanlah syair di bawah ini :

Biarpun kantuk menyiksa mata sampai mata menjadi buta hanyalah akan percuma, tiada guna bila bukan mencari ridha-Nya

Biarpun menangis tersedu-sedu sampai meratap bertalu-talu itulah prilaku si dungu mencari yang bathil, selain-Mu 


Wahai, anakku, hiduplah sekehendak hatimu, tetapi ingat, kamu akan mati. Cintailah siapa saja yang kamu suka. Tetapi ingatlah, kamu akan berpisah dengannya. Berbuatlah sesuka hatimu. Tetapi ingat kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatanmu itu!

Wahai, anakku, apa hasil yang telah kamu capai dalam mempelajari ilmu kalam dan khilafiyah, kedokteran dan farmasi, sastra, nahwu dan sharaf? Itu akan sia-sia bila kamu tidak memanfaatkannya. Aku telah melihat dalam kitab Injil Nabi Isa bin Maryam yang mengatakan :

“ Sesaat setelah mayit diletakkan di atas keranda sampai dengan dibawa ke liang kubur, Allah mengajukan empat puluh pertanyaan kepadanya. Pertama, Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “ Wahai hamba-Ku, kamu telah mensucikan pandangan ke arah makhluk selama bertahun-tahun. Dan kamu tidak mensucikan tempat pemandangan-Ku sekali waktu dalam setiap hari. Maka setiap hari pandanglah hatimu sendiri!”

Kedua kalinya Allah Subhanahu wata’ala berfirman lagi :

“ Wahai hamba-Ku, apa yang kamu perbuat terhadap selain-Ku, sedangkan dirimu berada dalam kebaikan-Ku. Adakah kamu tuli, tidak mendengar?”

Wahai, anakku, ilmu tanpa disertai amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu adalah sia-sia. Ketahuilah, anakku, ilmu pengetahuan tidak akan menjauhkan dirimu dari kemaksiatan di dunia ini. Pun tidak akan membawamu kepada jalan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Pun tidak akan dapat memelihara kamu dari amukan neraka jahanam, bila semua ilmumu itu tidak di amalkan. Bila di dunia kamu telah lalai dalam hal itu, maka kelak kamu akan menyesal, seraya berkata, “ Wahai Robbku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku di sana dapat beramal shalih. Kelak aku akan menebus dosa-dosaku di masa lalu.” Tapi sayang, permohonan itu hanya dianggap angin lalu saja.

Wahai, anakku, jadikanlah cita-citamu sebagai ruh. Kekalahan menjadi belenggu hawa nafsu, dan mati menjadi pakaianmu. Rumah masa depanmu adalah kuburan. Setiap saat ahli kubur menunggu kehadiranmu di tengah-tengah mereka. Oleh karena itu, pelihara dan jagalah dirimu. Jangan sampai kamu hadir di tengah-tengah mereka dengan keadaan compang-camping, tidak membawa bekal amal apapun.

Sayyidina Abu Bakar As-shidik berkata : “ Tubuh ini ibarat sangkar burung atau kandang binatang.”

Oleh karena itu, wahai anakku, berpikir dan bercermin dirilah. Termasuk golongan manakah kamu? Bila kamu tergolong burung yang terbang tinggi di angkasa, maka kembalilah ketika mendengar deru genderang di hari kiamat.

“ Hai, jiwa yang tenang, kembalilah kepada Robbmu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” –Al-Fajr : 27-30.

Wahai, anakku, hendaklah kamu berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Jangan sampai dirimu menjadi binatang seperti yang dicerminkan 

Allah Subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya :

“ Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanan kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” – Al-Araf : 179

Oleh karena itu janganlah dirimu merasa aman dan sentosa dengan kepindahanmu dari sudut rumah ke jurang neraka.

Pada suatu hari Hasan Bashri di beri minum oleh seseorang. Setelah gelas yang berisi minuman segar itu di pegang, ia jatuh pingsan. Gelas itupun jatuh terlepas dari tangannya. Setelah siuman, ia ditanya, “ Mengapa kamu menjadi pingsan, wahai Abi Sa’id?” Ia menjawab, “ Aku teringat permohonan ahli neraka kepada ahli surga, ketika mereka berkata: “ Tuangkanlah kepada kami barang seteguk air atau apa saja rezeki Allah yang diberikan kepadamu!”

“ Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, “ Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.” Mereka penghuni surga menjawab, “ Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.” – Al-Araf : 50

Wahai, anakku, jika menurut engkau dengan hanya memiliki ilmu saja sudah cukup tanpa perlu di amalkan, maka akan sia-sia seruan Allah yang menyuruh kamu berdo’a dan beristigfar. Para sahabat menyebut-nyebut nama Abdillah bin Umar sebagai yang dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Rasulullah menyambut ucapan sahabatnya itu, dan mengatakan, “ Ya, benar. Orang yang paling baik adalah Abdillah bin Umar. Ia melakukan shalat malam secara kontinyu.”

Pada Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam berkata kepada salah seorang sahabatnya: “ Hai, Fulan, janganlah kamu memperbanyak tidur di malam hari. Sebab banyak tidur di malam hari akan membuatmu miskin di hari kiamat nanti .”

Wahai, anakku renungkanlah dan hayatilah firman Allah Subhanahu wa ta’ala berikut ini “ Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Robbmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” Al-Israa:79

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampunan kepada Allah.” Adz-Dzuriyaat : 17-18

“ Yakni orang-orang yang berdo’a : Ya, Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.” Yakni orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, dan yang memohon ampunan di waktu sahur.” Ali Imran 16-17

Ayat-ayat di atas mengandung pengertian syukur dan zikir kepada Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda : “ Ada tiga suara yang di cintai Allah, yaitu : suara ayam jantan yang berkokok menjelang waktu subuh, suara orang yang membaca Al-Qur’an, dan suara orang yang memohon ampunan di waktu subuh.”

Sufyan Tsauri menjelaskan bahwa menjelang subuh angin yang berhembus membawa zikir dan istigfar orang mukmin kehadapan Allah Yang Maha Kuasa. Bila permulaan malam tiba, para penyeru yang berada di bawah Arsy menyeru, “ Berdirilah wahai hamba-hamba Allah yang tekun beribadah. Lakukanlah shalat malam sekehendak hatimu!”

Bila pertengahan malam mereka berseru,” Wahai orang-orang yang taat, bangunlah!” Maka mereka pun bangun memohon ampunan Allah.

Ketika fajar terbit, dikumandangkan pula seruan, “ Bangunlah, wahai orang-orang yang hidup dalam kelalaian! Maka mereka pun bangun dari tidurnya bagaikan mayat dibangkitkan dari kubur.

Wahai, anakku, Lukman Hakim pernah berwasiat kepada anaknya,“ Wahai, anakku, janganlah ayam jantan lebih pandai daripada kamu. Ia berkokok di waktu subuh, sedangkan kamu tidur melulu.”

Hal ini juga dikatakan oleh seorang penyair :

Di akhir malam yang masih kelam di waktu tenang seisi alam Aku berbaring di atas ranjang Bagaikan benda yang melayang

Demi Allah, demi Tuhanku sangatlah dusta dalam kataku mengaku dekat bagai terpaku kepada Allah, Penguasaku

Segalanya mudah aku rasakan taat dan cinta aku ucapkan isi maknanya aku tinggalkan mulut menyebut, hati ingkarkan

Lain halnya si burung murai memekik menangis berderai jika mulut dan hati tidak bercerai bagaimana kalah dengan si murai