Laman

Minggu, 28 Juli 2013

TAUHID







HAKIKAT TAUHID

Sejatinya manusia adalah jirimnya tidak salah yaitu Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, tapi sekarang sudah tiada hanya tinggal ghaibnya, setiap umat juga tidak luput punya ketetapan, harus oleh ghaibnya manusia “ barang” yang sudah pasti, jika di cari ilmunya, pasti bisa ketemu dan mengerti kepada ghaibnya manusia, jika ingin ketemu ghaibnya tentu harus oleh ghaib lagi melalui Ilmu jalannya dengan tharekat, sesudah itu barulah bisa Tauhid, tahu kepada ghaibnya diri manusia yang sejati, ibaratnya ;

Ada sebuah pisang matang di piring, apa yang akan menjadi tujuan? Jika RASA menjadi tujuan adalah salah, karena rasa sudah pasti ada di mulut/di lidah bukan ketetapan, jika pisang mempunyai rasa, tentu saja pisang bisa bergerak seperti hewan, jadi yang di tuju adalah MANIS nya saja, buktinya kita tidak mau memakan pisang yang masih muda dan kesat yang belum ada manisnya kecuali jika kita bernafsu ingin memakan pisang yang kesat, jadi yang namanya rasa itu sudah ada, sudah tetap, di manusia juga pasti. 


Wujud pisang tidak punya RASA hanya punya MANIS, manis adalah ghaib, terasa manis tapi tidak ada jirim, ada tapi tidak ada rupa, manisnya pisang tidak akan di dapat dan terasa, jika wujud pisang tadi di biarkan dan tidak dimakan, wujud pisang tidak dirusak, tidak dimakan sampai lembut, tentu saja tidak akan bertemu dengan WUJUD MANIS nya yaitu sejatinya pisang tadi

Begitu juga dengan manusia harus tahu kepada ghaibnya diri, ada tapi tidak kelihatan, akal juga begitu, harus bisa membongkar diri, membongkar wujud sendiri, seperti membongkar kelapa, supaya menghasilkan minyaknya, yaitu manusia yang sejati/ghoib diri.

Antal mautu qoblal maut, rusak merasa tidak punya diri, saking fananya, khusyu kepada Yang Maha Agung, lupa kepada raganya, tidak merasa punya raga, hilang jasmani, sirnanya Alam Dunia, berada di Alam Baathin, nyatanya manusia ghaib yang ada, tidak ada sifatnya, waktu melihat, pada waktu Tajalinya Allah dengan diri manusia, ketika ruhaninya shalat, manusia ghaib, ada tapi tidak ada rupa, tidak akan samar dan ragu kepada ghoib dalam diri.

Sekarang tinggal mengatur prilaku wujud, sepanjang berada di alam dhohir, kesucian prilaku, ngaji prilaku jasmani di jaga, mumpung masih di dunia, bandingannya adalah rencana Iblis yang merancang kepada nafsu, mengajak menjauhi Allah, perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit di iming –imingi dengan rupa-rupa kesenangan, ketertarikan, kesukaan, kemewahan Alam Dunia, siang dan malam tidak kurang penggodanya sang Idajil.

Di antara hidayah dan kesesatan ada sebuah HATI, dan hidayah itu sangat langka dan tidak selalu datang dengan bungkusan yang indah dan mahal tapi terkadang hidayah di bungkus dengan bungkusan yang kotor, kumal dan bau, yang belum tentu setiap orang mampu menerimanya ataupun membelinya, begitu juga dengan kesesatan terkadang di bungkus dengan bungkusan yang rapi, indah dan mahal hingga mampu menarik perhatian setiap orang.


Jalan menuju Surga di raih dengan ILMU
Jalan menuju Neraka di raih dengan HAWA NAFSU

Penghalang hati adalah Iblis, HATI adalah tempatnya Itiqod/Tekad [Akar TAUHID], dengan Itiqod itulah masing-masing orang menentukan arahnya, apakah akan menuju kepada hidayah ataukah sedang menuju kepada kesesatan, Sifat Allah adalah NETRAL, Allah sudah membekali dengan kitab Qur’an sebagai petunjuk...

Harus hati-hati menjaga jasmani, harus kuat berpegangan kepada Allah, memohon pertolongan Allah, berlindung siang dan malam. Insya Allah bahagia dunia dan akhirat, jika ber-Tauhid kepada Allah, Iman pasti kuat, susah untuk ditarik oleh Iblis, sebab sudah terkena syafa’at oleh mu’jizat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Bismillahirrahmanirrahim
Bismillahi dengan menyebut nama Allah. Rahmanirahim disebut, Rahman murahnya di dunia, dan artinya Rahim adalah Allah Maha Pengasih di Akhirat untuk umat Muslimin. Bagaimana Allah murahnya untuk manusia waktu di dhohir? Kemurahan Allah Yang Maha Suci buktinya sekarang di dunia sudah mengadakan bumi, api, angin, air.

Bibit setiap yang berkedip, bibit tanaman kecil yang tumbuh menjadi besar dan menghasilkan buah dengan rupa-rupa rasa, tanaman yang menghasilkan obat, sehingga menjadi makanan oleh semua makhluk yang kecil dan besar, begitulah Allah Maha Pemurah di alam dhohir.

Allah Maha Pemurah kepada manusia waktu di alam dhohir, sudah memberi tangan, dua buah tangan untuk menjadikan semua keadaan alam dhohir, keadaan alam dhohir yang semakin maju, pesawat ruang angkasa, kapal selam, mobil dll adanya sudah pasti oleh tangan, pabrik yang menggunakan air atau api semuanya hasil karya tangan.

Ketika ibadahpun begitu, tanganlah yang pertama kali dipakai menulis dan membawa Qur’an, dibukanya begitu juga, dari awal sampai akhir, semuanya menggunakan tangan saja, ketika mengerjakan Shalat, tanganlah yang pertama, dari mulai wudhu, sampai berdiri shalat lagi. Tangan yang pertama dijunjung, ke atas di pakai takbir, terus ruku, dibantu oleh tangan, di lutut tangan di pakai untuk menahan. Jika tanpa tangan sudah pasti tersungkur, sujudnya begitu juga jika tidak di bantu oleh tangan, kepala pasti terbentur, ketika bangun dari sujud, untuk duduk di antara dua sujud, jika tidak di bantu dengan tangan, susah untuk bangunnya.

Rahim-Nya Yang Maha Agung, yaitu pengasihnya Allah di alam akhirat, sifatnya yang bukti yaitu bisa melihat keadaan di alam akhirat, saking Maha Pengasih-Nya Allah ketika menjalani tharekat, bisa tahu alam ghoib, mengetahui Alam Ruh sebelum wafat, berbarengan siang malam, Alam jasad dengan Alam Ruh sudah bergulung menjadi satu.

Alhamdulillahirobbil ‘alamin

Segala puji kepunyaan Yang Maha Agung, tapi sudah lumrah orang menjadi keukeuh tekadnya yaitu puji dzikir, diakui puji diri sendiri, dipakai muji kepada Allah tapi tetap suka di akui punya pribadi, jika sudah memuji dengan dzikir berarti sudah memuji kepada Allah, benar apa yang di lisankan, itu adalah puji dari makhluk untuk memohon kepada Yang Maha Suci, mohon di ampuni dosa, dosa besar dan dosa kecil, jadi itu adalah puji lisan, memang benar dari kita kepada Allah.

Puji Allah, adalah wujud kita pribadi, inilah sekujur badan, tegasnya puji Allah Ta’ala, tetapi jika belum ma’rifat, tidak jadi pujinya Allah, sebab belum ma’rifatu, dalil laa haola itu pasti, harus terasa, bukan pengakuan di bibir, hati tidak merasakan, hanya latah kata orang.

Bagaimana mau mengaku tidak ada daya dan upaya diri, jika belum tahu kepada yang menggerakan dan membolak-balikan jasmani yaitu SIFAT RUH, seterusnya harus mengetahui diri, kepada yang menggerakan RUH yaitu SIFAT ALLAH sebab jika tidak tahu, orang bisa jadi akan MENGAKU ALLAH kepada RUH PRIBADI


Suatu kesalahan yang sangat fatal, belum sempurnanya ma’rifat kepada Yang Maha Suci, yang sampai sudah pasti, jasmani dan RUH nya menjadi laa haola, hanya DZAT sendiri, yang ada lahir baathin

Jika Tauhid manusia sudah begitu, wujud menjadi puji sudah menjadi pujinya Allah sebab segala perkara sudah merasa menjadi hak memelihara/hak guna pakai, tidak merasa memiliki apa-apa, fakir dan miskin, menerima dan pasrah, jasad dan segala yang datang kepada badan, walaupun geraknya dan tarikan nafasnya hanyalah  

Qudrat [Merencanakan>Hati] dan Iradat [Melaksanakan>Pikir] Allah Yang Maha Suci, gerak dan berdirinya menjadi puji semua, menjadi pujinya Allah, juga ibadahnya, perkataan, penciuman, penglihatan dan pendengaran diterima oleh Yang Maha Agung, pengabdiannya diterima dan sah, sah Dzat, sah Sifat, sah Asma, sah Af’al walaupun hidup di dhohir.

Bagaimana jika sudah ma’rifat kemudian melanggar hukum sara? Melanggar apa yang di larang Allah? Orang seperti itu berarti tidak takut oleh malu, yang begitu termasuk martabat hewan, hanya bisa berkata, tidak sampai kepada hati, yang benar adalah mengaku Tauhid kepada Allah yang terus sampai ke dalam hatinya, tentu suka punya pilihan, sebab Allah sudah di sebut di Qur’an dan Hadist Allah mempunyai Sifat Suci, SUCI DZAT - SUCI SIFAT - SUCI ASMA - SUCI AF'AL, jika sudah Tauhid kepada Allah sudah tidak merasa berpisah, akrab siang dan malam, tidak ada jarak, berbarengan dengan yang suci

Tapi jika prilaku masih betah diam di maksiat, bermain di tempat kotor haram dan najis, bagaimana jadinya? mengaku sudah ma’rifat, yang seperti ini adalah bohong, menyebut Tauhid kepada Allah, biarpun sudah punya tharekat pasti batal atau tidak jadi, padi yang terserang hama tidak akan berbuah menjadi biji, pasti mendapat hukum, dari dunia terus kepada baathin, jika tidak cepat bertaubat dan akan kembali lagi Tauhid kepada Allah, maka taubatnya akan lebih berat sebab sudah mengetahui hukum dan tidak takut oleh malu, meremehkan Allah, jauh dari kemuliaan dari dhohir sampai baathin, susah untuk di ampuninya, tidak gampang seperti tadi.

Tauhid yaitu yang sudah bisa memisahkan dari kotoran, menyingkir dari prilaku maksiat, bersatu kepada yang bersih, beres prilaku. itiqod, perkataan.


Jika merasa akrab dengan Allah harus membersihkan prilaku, di jaga agar tidak kotor, punya rasa malu dengan Allah Yang Maha Suci, siang malam tidak ada jarak melihat segala prilaku yang baik dan buruknya, agar prilaku di aji.

Makanya wajib ma’rifat gunanya untuk kebaikan PERKATAAN - ITIQOD - PRILAKU, selama kita hidup harus punya RASA MALU kepada Yang Maha Suci, jika sudah punya rasa malu tidak akan punya munafik, sombong, syirik, iri, dengki, ujub, riya, hasud dan khianat kepada manusia, kepada sesama yang hidup, semua ada karena Allah…

Jika tidak ma’rifat, tidak akan bisa Iman kepada Yang Maha Suci, walaupun ibadahnya zuhud sebab tidak akan merasa hinanya si wujud atau apesnya jasmani, mengaku punya kuasa, bergerak, berbalik, duduk, berdiri, di akui kepunyaan pribadi, tentu saja berdosa karena menghinakan kepada Yang Maha Agung, mengaku punya kuasa
mengadakan harta, tahta, pangkat, jabatan dll adalah hasil kerja keras pribadi yang terjadi adalah musyrik kepada Allah. 

Zhalim terhadap diri sendiri, jahiliyah di akhir jaman,
kebodohan dalam memahami Allah tanpa Ilmu, munculnya sifat-sifat Namruz, Fir'aun, Qorun, Tsalabah, dll.  

Menjual akhirat demi dunia, cinta dunia dan takut mati, hubbud dunia/Iman dunia,  adalah sumber segala penyakit hati, menyebabkan hati menjadi terhijab kepada Allah, satu tetes pengalaman hidup pada proses kehidupan tidak akan membuat orang muslim dan mukmin jatuh ke dalam lubang yang sama.


Sebaliknya jika kita merasa hina, "apesnya diri", bodoh, fakir dan miskin tentunya tidak akan ada yang di akui, jadi timbul Allah Yang Maha Agung yang Kuasa dhohir dan baathin, begitulah puji yang sesungguhnya bukan puji di bibir, harus merasakan dan menerima hina, bodoh, fakir dan miskin, tidak punya apa-apa, semua karena kuasa Allah dari dunia sampai baathin.



Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karamallohu Wajha : "Akan datang suatu masa dan aku khawatir terhadap masa itu :

1. Dimana keyakinan hanya tinggal di dalam pemikiran.
2. Dimana keimanan tak berbekas dalam perbuatan.
3. Banyak orang baik tapi tak berakal.
4. Ada pula yang berakal tapi tak beriman.
5. Ada yang lidahnya fasih tapi hatinya lalai.
6. Ada pula yang khusyu' tapi sibuk menyendiri.
7. Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis.
8. Ada pula ahli maksiat tapi rendah hati.
9. Ada yang bahagia tertawa tapi hatinya berkarat.
10. Ada pula yang sedih menangis tapi kufur nikmat.
11. Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat.
12. Ada pula yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.
15. Ada yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan.
16. Ada pula pelacur tapi menjadi figur.
17. Ada yang memiliki ilmu tapi tidak paham.
18. Ada pula yang paham tapi tidak menjalankan.
19. Ada yang pintar tapi membodohi.
20. Ada pula yang bodoh tapi tidak tahu diri.
21. Ada yang beragama tapi tidak berakhlak
22. Ada pula yang berakhlak tapi tidak ber-TUHAN.