Laman

Jumat, 01 Februari 2013

SURGA - NERAKA - BIDADARI










                      Fa aina tadzhabuun?


Manusia itu asalnya dari tidak ada, atas ijin Allah Yang Maha Agung, dari tidak ada menjadi ada, lahir ke Alam Dunia, tapi nanti di akhir waktu, sesudah pulang dari Alam Dunia, bakalan di perlihatkan lagi, siksaan dan pahala yaitu yang disebut Neraka dan Surga. Neraka buat jiwa manusia yang di hukum yang tidak menurut kepada perintah Allah dan Rasulullah. Surga adalah Rahmat buat jiwa yang sempurna yang menurut kepada perintah-Nya, ni’mat yang tiada bandingannya.

Sempurnanya manusia adalah habis, tidak ada ampasnya, habis nyawa, habis rasa, habis nafsu, habis wujudnya, tapi jangan keliru yang dimaksud rasa adalah rasa dunia [Iman dunia] dan rasa nafsu [Rasa Dunia] yang dipakai ketika di dunia, umpamanya rasa dhohir, tegasnya rasa jasad yang sekarang sedang di pake, bisa sempurna semuanya alias habis, maka yang timbul nanti adalah yang disebut rasa yang sejati atau Jiwa yang sempurna, itulah yang akan menerima balasan dari Allah, ni’mat yang tiada taranya, langgeng dan tidak putus.

Rasa Sejati, asalnya dari campuran rasa Wujud/jasad [Api, Air, Bumi, Angin] Rasa waktu di Alam Dunia sekarang. Nanti, jasad ini akan menjadi ampas, jika sekarang di Dunia, tidak ketemu dengan Ilmunya, ilmu kesempurnaan, maka tetap saja Rasa Dunia dan Iman Dunia yang sekarang yang akan dibawa langgeng tidak ada habisnya, bakal bertemu dengan segala siksaan.

Jika Baathin kotor maka manusia tidak akan bisa menerima balasan dari Allah. sebab ni’mat Baathin bukan untuk bagian rasa dunia sekarang, rasa dunia hanya untuk menerima keni’matan saja, bukan untuk menerima ni’mat. Keni’matan yang harus di usahakan melalui pekerjaan.

Seperti kita di dunia, rumah bagus, enaknya tentu dengan di lihat, suka di tempat terang pekerjaanya dengan di lihat, dengan istri juga suatu keni’matan, sebab ada yang harus dikerjakan dan pasti ada bosennya, tidak langgeng selamanya itulah rasa dunia hanya itu bagiannya, sangat berbeda dengan ni’mat dari Yang Maha Suci, yaitu Rahmat, untuk di Baathin nanti tidak akan ada pekerjaan, tidak di makan, tidak dilihat, tidak di dengar, tidak di cium, 



Maa laa ‘Aina Roat Wa laa Udunun Sami’at

Surga kepunyaan Allah, tidak terlihat oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, sudah tidak pakai pekerjaan, hanya ni’mat yang terasa jika Surga seperti di dunia, berarti sebuah gedung-gedung yang bagus, anak-anak, istri-istri yang cantik, mobil yang mahal.

Betul kata Hadist, diceritakan di kitab, di gambarkan dengan gedung-gedung, dengan Bidadari-nya, rupa-rupa keanehan, agar manusia menurut dan tertarik oleh keadaannya, dan agar manusia takut dengan Neraka Akhirat, Hadist itu menggambarkan seperti di dunia. Neraka adalah api yang panas, tapi menurut dalil di atas tadi Surga itu tidak terlihat, nyatanya Surga, hanya enak saja, Neraka juga begitu hanya menyakitkan.

Jika di Neraka api panasnya yang terasa, jika di Neraka gelap pengap saja yang terasa, begitu juga jika Neraka air dinginnya yang terasa. Di dunia juga sudah bukti, jika sakit panas dingin, badan terasa panas seperti digodok, sedangkan apinya tidak ada, di dingin kedinginan tidak bisa hangat walaupun pake selimut, sedangkan airnya tidak ada.

Ruh Api akan menjadi Neraka panas
Ruh Air akan menjadi Neraka dingin
Ruh Bumi akan menjadi Neraka gelap
Ruh Angin akan menjadi sengatan Neraka yang menyengat nyawa manusia.

Di dunia menerima Neraka berarti menerima tidak enak, walaupun ada sembuhnya, begitu juga dengan keni’matan di dunia tidak ada yang langgeng, ada ujungnya, tetapi di Alam Akhirat, enak dan tidak enak, tidak akan bercampur seperti di Dunia, di Akhirat itu pasti, masuk Neraka tetap dengan ketidakenakan, langgeng tidak ada batas alias kekal, jatuh ke Surga langgeng dengan ni’matnya, dunia itu seper seribu Akhirat, ni’matnya seperti ketika tertidur pulas tanpa mimpi, lupa Alam Dunia itulah ni’mat Akhirat yang seper seribunya, segitu saja rasa jasad sudah tidak ada kekuatan. Sudah habis sama sekali, hilang Alam Dunia, hanya ni’mat yang ada, sudah pasti yang menerima ni’mat adalah rasa sejati, karena rasa jasad sudah tidak ada, hanya rasa sejati yang timbul, olahan dari rasa jasad. Rasa jasad berasal dari makanan, waktu bayi sebelumnya diberi makan dari olahan yang empat : Api, Angin, Air, Bumi. 




BIDADARI

Laki-laki yang beriman akan mendapat balasan bidadari 40, termasuk bidadari 40 yang akan menjemput istri yang mendapat Iman yang ibadah kepada Allah dan Rasulullah, karena sudah banyak istri yang melakoni Agama dari pada laki-laki, tetapi kenapa tidak ada kata di jemput Bidadari untuk istri, Bidadari ada, tapi itu adalah munasif atau simbol/perumpamaan, keni’matan balasan dari YANG MAHA SUCI harus dengan ilmu, dipikir sampai mengerti, harus ditelusuri asalnya, Bidadari adalah rupa seorang istri yang berparas cantik-cantik, istri sudah pasti sifatnya pada kesukaan hati, keni’matan, enak, syahwat, kasih sayang dan cinta. Benar, empat puluh Bidadari kata Hadist untuk seorang manusia, kebagiannya pasti, itu adalah perumpamaan, tentu saja hanya empat Bidadari dan Nol adalah bilangan kosong, tidak ada isi, yang empat Bidadari adalah :  

1. Kelezatan di mulut
2. Keni’matan  di telinga.
3. Kebahagiaan di mata
4. Kasih sayang di hidung
 

Dari semua yang empat keluar sifat keni’matan yang sama, sangat nyata manusia bakal di jemput Bidadari.  

Bidadari dari MULUT, jika kedatangan ayam goreng yang paling enak, rasanya pasti ni’mat dan lezat, malah ingin lagi rasanya, setiap laki-laki dan istri yang beriman akan menerima balasan. 

Bidadari dari TELINGA, pendengaran, keni’matan bacaan Al-Qur’an, suara piano dll Ni’mat yang mendengar, enak kata rasa telinga.  

Bidadari dari MATA, jika melihat apa saja keanehan, barang dll. Sudah pasti menyukai karena melihat sesuatu yang enak dilihat mata. 

Bidadari dari HIDUNG juga mengeluarkan keni’matan, jika mencium minyak wangi, atau apa saja yang wangi, dicium bau minyak wangi rasanya enak sampai ke hati, saking wangi harumnya, bisa membangunkan syahwat.