Laman

Kamis, 11 April 2013

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJI’UUN





 





"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, kemudian hanyalah kepada Kami = ILMU kamu dikembalikan" 

[al-A'nkabut: 29;57]

Kematian adalah perpindahan dari alam dunia menuju ke alam kubur dan alam akhirat, bermula dari hisab sakaratul maut, hisab kubur dan hisab akhirat.


Perjalanan panjang ratusan tahun menuju akhirat, 1000 tahun jalan menurun, 1000 tahun jalan mendatar, 1000 tahun jalan menanjak, sampailah ke kampung akhirat...

Seluruh manusia akan dikumpulkan, mulai dari umat jaman Nabi Adam alaihissalam, sampai umat Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam, umat akhir jaman dan akan terbagi menjadi dua golongan besar ; 


GOLONGAN KANAN (Ashabul yamin)
GOLONGAN KIRI (Ashabusy syimal)

Setiap golongan akan memperoleh balasan apa yang telah di usahakannya ketika di dunia.

Haqullah artinya manusia yang mati dalam keadaan bersih dan suci, maka akan kembali kepada Allah Ta’ala, ibarat bayi di dalam rahim.
Haqul Muhammad artinya manusia yang mati dalam keadaan bersih, maka tempat kembalinya adalah kepada Rahmat. 
Haqul Adam artinya manusia yang mati dalam keadaan kotor, maka tempat kembalinya adalah terpenjara di alam dunia

“ASAL DARI ALLAH”… adalah dari Jauhar Awwal ini.
Sifatnya terang benderang, cahaya gilang gemilang yaitu “gulungan” DZAT bersama SIFAT-Nya Yang Maha Suci. Setelah ini barulah ada ASMA ALLAH, dimana dinyatakan bahwa ;

Hakikat Muhammad adalah :
JAUHAR AWWAL isinya adalah RUH ILMU RASULULLAH.

Benda Rasulullah MERAH, KUNING, PUTIH dan HITAM
Cahaya empat itu disebutnya HAKIKAT ADAM “Barang” ghoib yang disebut ISMUDZAT, bibit alam dhohir atau Asma Maha Suci. Satu Asma-Nya Allah Ta’ala adalah :
SIFAT RUH (Adam hakiki) menjadi SIFAT IRADAT-Nya Allah Ta’ala.


SIFAT dan ASMA ALLAH yaitu :
JAUHAR AWWAL RASULULLAH
(Satu cahaya halus yang mencukupi untuk seluruh ciptaan-Nya)


SIFAT QUDRAT yang menghidupkan manusia.
SIFAT IRADAT [RUH] yang menjadikan :


RUHUL BASHAR = PENGLIHATAN
RUHUS SAMMA' = PENDENGARAN
RUHUN NAFASI = PENCIUMAN
RUHUL KALAMI = PERKATAAN 

Jadi, manusia berasal dari Qudrat dan Iradat Allah Ta’ala. itulah sifat-sifatnya Qudrat Iradat-Nya Allah Ta’ala.

“INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJI’UUN”…  

(Tidak ada jarak) dari ROH (Nama-wujud-rupa-jasad)
" kembali " kepada SIFAT FITRAH RUH. 

Suci dan bersihnya JIWA (Nama-wujud-rupa-rasa) yang terdiri dari 4 RUH. Kembalinya RASA SEJATI ke asalnya lagi, kubur sejati yaitu MARTABAT NUURULLAH (Jauhar Awwal Rasulullah) Cahaya empat rupa, RUH kembali kepada DZAT SUCI seperti bayi di dalam kandungan (Alam rahim) Sunyi

“ INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJI’UUN”… 

Kematian yang sempurna, inilah jalan pulang para Nabi dan Rasul, para Sahabat, Salafusshaleh, Syuhada, para Imam, Ulama Sejati, Wali Rasul, orang-orang Shaleh/Suci dll, kembali ke MARTABAT MANUSIA SEJATI (INSAN KAMIL MUKAMIL)
 

Supaya bisa kembali selamat dalam keadaan suci dan bersih. Manusia wajib ma’rifat kepada Qudrat Iradat Allah Ta’ala, jika tidak ma’rifat, pasti matinya balik lagi ke Alam Dunia. Alam Dunia ini sudah mengalami kerusakan, lalu akan mengalami kehancuran, “ wal yaumil akhiri ”, tiap-tiap manusia yang pulang ke tempat yang bakalan rusak, pasti yang mengisinya akan ikutan rusak juga, nyawa manusia masuk kembali ke alam dunia, tidak mampu mencukupkan dalil “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJI’UUN”…Menjalani hisab sampai pengadilan akhirat…Qadhi Rabbul Jalil... Kematian yang tidak sempurna adalah karena iman dunia atau rasa dunia tertinggal di martabat benda, tidak bisa kembali lagi kepada asalnya yaitu Jauhar Awwal Rasulullah...

Sifat Rasa adalah sifat pekerjaan ketika di dunia dan manusia akan mempertanggung jawabkan;
ILMU - AMAL - PERKATAAN  
yang di dapatkannya ketika di dunia...tugas Malaikat Maut hanyalah mencabut nyawa saja dan setiap manusia akan di bawa oleh SIFAT ILMU yang di dapatkannya ketika di dunia...dan dengan sifat ilmu...manusia akan menjawab setiap pertanyaan kubur.

Tidak bisa pulang ke asalnya, jalannya harus di cari, detik demi detik, waktu bagaikan pedang, manusia kian mendekati akhirat, ROH (Rohani) jasad harus kembali berubah sifat menjadi SIFAT FITRAH RUH (Ruhani), nyawa harus terbawa pulang, jika tertinggal di dunia, maka akan tetap di Haqul Adam tidak bisa pulang ke Haqullah/ Nuurullah Yang Maha Agung, sifat Iman kepada Yang Maha Agung, kampung akhirat yang sejati.

Sempurna nyawa artinya habis, sirna, bersih, ibarat lampu teplok, habis minyaknya (RUH) habis nyala/api (NYAWA) dan habis panasnya (NAFSU) Kembali ke asalnya, tidak ada enak dan tidak enak, sunyi tidak ada apa-apa. berbeda dengan martabat hewan yang tidak mempunyai Neraka dan Surga, sebab disebutkan dalil, yaitu Kuntu turobba, semua hewan, asalnya tidak ada jadi ada, sesudah ada, tentu kembalinya ke asalnya ke kerajaan hewan, tidak ada Neraka dan Surga, yaitu enak dan tidak enak, pulang ke asalnya dahulu sebelum ke alam dunia karena tidak punya ketetapan Agama, berbeda dengan manusia.


“Kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu ’an uraf fa khalaqtu al-khalqa li-kay u’raf"

 Aku pada mulanya adalah khazanah yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk, agar mereka mengenali-Ku.

Kematian adalah keluarnya nyawa dari kurungan jasad, naik ke atas melalui ubun-ubun, nyawa manusia yang tidak bisa kembali karena tidak menemukan jalannya ketika di dunia, tidak adanya cahaya iman di dalam qolbu/hati, yaitu jalan pulang ke akhirat kepada asalnya, tidak menemukan ilmunya, ilmu yang memberi tahu asalnya dari mana, sudah pasti bertemu dengan kegelapan, sakaratul maut, tidak akan melihat jalan karena terhijab, rasanya pengap, dada naik turun saking pengapnya, semakin lama akhirnya meletus karena pompa jantung yang berlebihan, akhirnya nyawa keluar dari wujud nabrak ubun-ubun, tetap berada di alam dunia, di dalam Haqul Adam, sudah bukti pula bahwa di alam dunia ini sudah dipenuhi oleh kerajaan Dedemit, Siluman dan Jinn. 

Sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam ;
Apabila cahaya Allah telah masuk kedalam qalbi maka dadapun menjadi lapang dan terbuka…
” Seorang sahabat bertanya, “Apakah yang demikian itu tanda-tandanya ya Rasulullah?” 
Rasulullah menjawab, “Ya, orang-orang yang mengalaminya lalu merenggangkan pandangannya dari negeri tipuan (dunia) dan bersiap menuju ke negeri abadi (akhirat) serta mempersiapkan mati sebelum mati. 

Simpanlan rumah di tanah lapang 
Simpanlah istri di rumah
Simpanlah anak di ruangan anak
Simpanlah orang tua di rumah
Simpanlah mobil di garasi
Simpanlah motor di garasi
Simpanlah uang di bank/brangkas dll

DUNIA untuk AKHIRAT...
AKHIRAT untuk AKHIRAT...

Janganlah dunia di masukkan ke dalam hati...
rasa akhirat dan iman akhirat harus bersih dari iman dunia dan rasa dunia...
 

"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju) Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
[An Nisaa:10]


“Ad-Dunya mazro’atul aakhirah” 
Dunia ini adalah tempat bercocok tanam untuk kehidupan di kampung akhirat



HAKIKAT AL - QUR'AN DAN AGAMA








Ini adalah diwan Imam Syafi'i yang sudah dihilangkan,
DIWAN IMAM SYAFI’I :

فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
 
Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. 

Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan taqwa. 

Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik? 
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]

 ISLAM ; " Aslama yuslimu Islaman fa huwa muslimun"
" Ila Ibadaka min humul mukhlasin" 


*Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata: 
Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: 

Sesungguhnya Allah tidak mengambil ILMU dengan cara mencabutnya begitu saja dari manusia, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu dengan cara mencabut (nyawa) para ulama, sehingga ketika Allah tidak meninggalkan seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh yang apabila ditanya mereka akan memberikan fatwa tanpa didasarkan ilmu lalu mereka pun sesat serta menyesatkan.

*Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: 

Sesungguhnya menjelang terjadinya hari kiamat terdapat beberapa hari di mana pada hari-hari itu ilmu akan diangkat, diturunkan kebodohan dan banyak terjadi peristiwa pembunuhan. 

*Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:

Di antara tanda-tanda hari kiamat ialah diangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, banyak yang meminum arak, dan timbulnya perzinaan yang dilakukan secara terang-terangan.

*Hadis riwayat Abu Musa r.a.: Dari Nabi Muhammad
Shalallahu 'alaihi wassalam, bahwa beliau bersabda: 

Perumpamaan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dalam mengutusku untuk menyampaikan PETUNJUK dan ILMU adalah seperti hujan yang membasahi bumi. 

Sebagian tanah bumi tersebut ada yang subur sehingga dapat menyerap air serta menumbuhkan rerumputan dan sebagian lagi berupa tanah-tanah tandus yang tidak dapat menyerap air, lalu Allah memberikan manfaatnya kepada manusia sehingga mereka dapat meminum darinya, memberi minum dan menggembalakan ternaknya di tempat itu, yang lain menimpa tanah datar yang gundul yang tidak dapat menyerap air dan menumbuhkan rumput. 

Itulah perumpamaan orang yang mendalami ilmu agama Allah dan memanfaatkannya sesuai ajaran yang Allah utus kepadaku di mana dia tahu dan mau mengajarkannya. 
Dan juga perumpamaan orang yang keras kepala yang tidak mau menerima petunjuk Allah, yang karenanya aku diutus.


RUKUN AGAMA 

Agama artinya adalah HIDUP, sebab jika tidak ada hidup, tidak akan ada nama Agama, Islam juga tidak akan ada, begitu juga dengan rukun-rukunnya sudah pasti tidak ada.

Jadi SIFAT HIDUP adalah pasti, yaitu sejatinya Agama atau sifat ilmu yaitu ilmu hidup/aturan hidup, berilmu harus sampai kepada terangnya, sifat Agama harus disusul, jangan hanya di kira-kira, Rukun Agama harus ketemu, tentu dengan syariatnya, hakikatnya, tharekatnya dan ma’rifatnya
yang sejati karena di bagian BAB ILMU, RASA yang akan menerimanya, melalui NASAB/BIN ILMU/SILSILAH ILMU ;

Tharekat Shalat - ILMU > BUKTI > KEYAKINAN
Naqsabandiyah - MANDI

Naqodariyah - SHALAT
Naqsatariyah - WIRID

ALIF - LAM - MIM
Allah - Malaikat - Muhammad
To'at - Taubat - Munajat

Fi'il Amar - Shalat To'at - PERKATAAN
"Ati'ullaha wa ati'ur rasula wa ulil amri minkum"
Fi'il Madhi - Shalat Taubat - ITIQOD
" Taubatan nasuha "
Fi'il Mudhari - Shalat Munajat - PRILAKU 

"Ud'uni astajib lakum"

 - TIDAK ADA KAITAN dengan Khidir -


Shalat To’at, Shalat Taubat, Shalat Munajat.
Mandi (Penghilang hijab) dan Wirid/Zikir, ini BUKAN bagian dari bab ibadah.
BAB IBADAH adanya di shalat fardhu yaitu ma’rifat laku ibadah, hasil dari kitab di dapat dengan mencontoh, tetap masuk kepada yang empat, syariat, hakikat, tharekat dan ma’rifat.

Ibarat mau bikin kursi, niat yang pertama, sesudah niat tentu adanya hakikat, adanya hakikat adalah dari ma’rifat dan pengetahuan, Sebab tadi sudah menjadi ilmu, sudah TAHU dan BISA membuat kursi, terus memakai tharekat sampai syariat, sifatnya menjadi kursi dan rupa kursi, perjalanan ilmu tegasnya adalah untuk mencari ma’rifatnya kepada Yang Maha Agung, yaitu kepada Dzat dan Sifat-Nya Allah Ta’ala, yaitu wujud ilmu atau sejatinya Agama

Jalannya rukun yang 4 perkara, syariat hakikat, tharekat dan ma’rifat, adanya di wujud dalam badan manusia, jadi namanya rukun agama adalah bagian ilmu untuk menyusul kepada wujud/fitrah agama, yaitu sifatnya hidup atau ilmu hidup yang meliputi semuanya.

SYARIAT pokoknya ada di mulut, jalan untuk bicara, itulah PERKATAAN manusia, sejatinya syariat, perkataan adalah pasti karena membuktikan segalanya, keramaian alam dunia bibitnya adalah dari perkataan, adanya mobil, gedung-gedung, bangunan dll semuanya untuk membuktikan maksud.

Walaupun ada niat, bahan-bahan sudah tersedia, tetap saja tidak akan jadi, karena tidak adanya perkataan, batal dan tidak jadi [hakikat] niat adalah yang menentukan segala perkara, jika ngaji hakikat tidak dibarengi dengan syariat, batal menurut hadist, dan segala sesuatu tidak akan jadi maksud karena pokoknya syariat adalah yakin dengan ilmunya, yaitu sejatinya ucapan manusia.

THAREKAT nyatanya adalah PENDENGARAN, selamanya bekerja tidak ada istirahat, ketika melek, semua suara kumpul, pendengaranlah yang menerima.

HAKIKAT nyatanya PENCIUMAN yang ada di wujud manusia. Ibarat mau makan sate kambing, sebelum mulut merasakan, penciuman yang lebih dulu merasakan wanginya, hakikat pada hakikat, sebab hakikat itu ada, tapi tidak ada rupa, yang ada adalah wangi sate kambing, begitupun penciuman tidak ada rupa, buktinya adalah sifat sate kambing yaitu bagian penglihatan.

MA’RIFAT nyatanya adalah PENGLIHATAN, sifatnya mata yang nyata, mata yang mensahkan sifat-sifat yang di dhohir, bergulung kepada penglihatan, disebut pengetahuan lahir dan baathin, tidak ada bedanya nama rukun Agama atau rukun Ilmu, adalah untuk memberi tahu Agama. Ibaratnya ;


Ilmu Syariat : Sabut kelapa
Ilmu Tharekat : Batok kelapa
Ilmu Hakikat : Daging kelapa
Ilmu Mari'fat : Air kelapa
Ilmu Ismu Dzat : Minyak kelapa murni

Agama yang sejati, yaitu SIFAT HIDUP MANUSIA, sesudah tahu kepada sejatinya Agama, barulah rukun Islam, dan sesudah Islam, haruslah bersungguh-sungguh dengan rukunnya, yaitu yang 5 perkara :
1. Syahadat 

2. Shalat
3. Zakat 
4. Puasa
5. Haji

Rukun Iman : Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat - Malaikat Allah, Iman kepada Kitab - Kitab Allah, Iman kepada Rasul - Rasul Allah, Iman kepada Hari Kiamat, Iman kepada Qadha dan Qadar.

RUKUN IMAN :
TASDIQUL QOLBI BIMAA JA A BIHINNABIYYU SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM.
Mengakui dan menerima oleh hati kepada perkara-perkara yang di sampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam ;

RUKUN ISLAM :
AL INQIYADU BIL AHKAMISY-SYAR’IYATI
Menurut dan pasrah menerima kepada perintah hukum syara’ (Ummat Baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam)


 RUKUN IHSAN :
ANTA’BUDA ROBBAKA KA ANNAKA TAROOHU FAIN LAM TAKUN TAROOHU FAINNAHU YAROOKA
Tidak punya rasa kehilangan, rasa di ingatkan oleh Alloh.
Syarat Iman :
1. Ma’rifat
2. Iddi’an yaitu hati mengakui .
3. Qobuul yaitu menerima dengan hati kepada perkara-perkara yang di sampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam
4. Iqror dua kalimah syahadat oleh lisan.

MA’RIFAT :

IDROOKUN JAAZIMUN BIHAITSU LAISA MA’AHU TARODDUDUN MUWAAFIQUN LIMAA FIL WAAQI’I NAASYIUN ‘AN DALILIN. Artinya : pengetahuan yang pasti, tidak terkena oleh perubahan, yang sama dengan buktinya yang timbul dari alasan yaitu pengetahuan hati yang sama dengan pendapat para Imam, Ijma Ulama yaitu yang menetapkan kepada Allah oleh sifat 20 wajib, 20 mustahil dan satu yang wenang FI’LU MUMKININ DAN WA TARKU MUMKININ


Rukun artinya adalah, rukunnya ;
1. Penglihatan
2. Pendengaran
3. Penciuman
4. Perkataan.
ke lima adalah Rasa Rasulullah (penguasa RASA)

Fiqih tanpa Tasawuf adalah Fasik. Tasawuf tanpa Fiqih adalah Zindiq...

Tasawuf adalah segala hal yang menyangkut tentang kesucian jiwa...

Ngaji Tauhid ibarat berdiri di depan sebuah perangkap, salah masuk akan terpenjara sepanjang usia...

 Ngaji Fiqih ibarat berjalan di atas mata gergaji, salah langkah, kaki berdarah...

Ngaji Tasawuf ibarat berjongkok di atas bara api, 
SANGGUP DINGIN DI HAWA PANAS dari godaan dunia, godaan Iblis, siap di cela, siap di hina, siap tidak di hargai, siap di sesatkan, siap di kafirkan, dan segala sesuatu yang menyakitkan yang datang kepada hati...

Melapangkan hati ketika di hina...
Melapangkan hati ketika di cela...
Melapangkan hati ketika di sesatkan...
 
Melapangkan hati ketika di kafirkan...
Melapangkan hati ketika di khianati...
Melapangkan hati ketika tidak di hargai...
Melapangkan hati ketika datang musibah...
Melapangkan hati ketika datang malapetaka...dll
Menerima segala yang datang dengan ucapan Istigfar, hakikatnya adalah Allah sedang mengangkat derajat akhirat... 


 

 " Ngaji keluar dari poros diri, hanya akan menjauhkan diri dengan Allah "
 
" Tharekat adalah suatu perjalanan ruhani di dunia menggunakan kendaraan shalat untuk menemukan hakikat jati diri, dan memahami seluk beluk jiwa… jalan terjal berbatu yang penuh onak dan duri untuk menemukan setetes Rahmat yang langgeng di Dunia dan Akhirat "

Sebuah perjalanan diri, mengaji ke dalam poros diri untuk menjalankan turbin di jagat shagir, isinya adalah menzakatkan diri, menzakatkan tenaga, menzakatkan harta, membereskan diri, mendekatkan diri, mensucikan diri dll, menggunakan metode amalan melalui bin ilmu / pengijazahan dari Ustadz, makanya amalan khusus tharekat tidak bisa di babar di umum, akibatnya bisa berbahaya karena wadah di diri seseorang sangatlah menentukan, tentunya yang sangat mengetahui perihal wadah adalah Ahli Zikir. 10 tahun ber-tharekat belum tentu seseorang bisa mencapai derajat ma'rifat...Hanya kehendak Allah yang bisa menjadikan seseorang untuk mencapai derajat ma'rifat...

Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam mengalami tahun duka cita selama 2 tahun, di usia 25 di angkat menjadi Nabi, dan di usia 40 di angkat menjadi Rasul, selisih 15 tahun, dan selama 15 tahun tidak pernah ketinggalan shalat malam, umatnya bertaubat selama 15 tahun untuk mencapai derajat maghfirah. 

Nabi Adam alaihissalam pun bertaubat selama hidupnya...dan seperti halnya terompah yang di pakai Nabi Musa alaihissalam, yang diharuskan di tinggalkan yaitu kotoran lahir = dunia dan baathin = akhirat... Nabi Adam menempatkan kematian berada depan muka, dan dunia berada dibelakang kepala...

Usia 40 tahun adalah sebagai patokan, jika sebelum usia 40 prilaku masih betah dengan sifat keburukan dan tidak mengalami tahun duka cita, maka ketika melewati usia 40 akan sulit kembali kepada sifat kebaikan...Kecuali pertolongan Allah...Memasuki usia 60 tahun akan kembali kesadarannya...Tetapi yang tidak sadarpun banyak alias linglung.

Jika usia sekarang 60 tahun, dikurangi 15 tahun 
(masa akil baligh) = 45 tahun maka akan menjadi 45 buku catatan amal yang tersimpan di Lauh Mahfudz, setiap setahun sekali terjadi pergantian buku catatan amal yaitu pada waktu Nisfu Sa'ban, untuk dipertemukan dengan Ramadhan. Iedul fitri. Minal ' Aidin wal Faizin, halal bi halal, asal halal kepada halal, asal bersih kepada bersih, asal suci kepada suci, dihalalkan hidup dan diri, dengan cara memaafkan diri sendiri, bertemunya fitrah diri dengan fitrah agama untuk menjadikan selarasnya jalan kehidupan dan jalan agama, kembali kepada fitrah untuk menjalani kehidupan 11 bulan ke depan...

 ‘’Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka tanyakanlah olehmu kepada para Ahli Ilmu, jika kamu tidak mengetahui.’’   
QS. Al Anbiyaa’ (21): 7.

Ahli Zikir mampu mengetahui dan
mengusir virus jika mengganggu orang, mampu berdialog dengan virus – virus yang ada pada diri seseorang, tahu khodam isi ayat. Ahli Zikir tahu obat dan dosis yang harus di gunakan. Ahli zikir tahu do'a Nabi Isa alahissalam ketika membangunkan orang mati. Ahli zikir tahu do'a Nabi Musa alahissalam ketika membuka lautan dan menutup lautan. 

Adab berzikir tidak bersuara keras, tidak menggoyangkan kepala dan badan, bahkan selembar rambutpun tidak ada yang bergerak, suara ayat hanya terdengar oleh telinga sendiri, bibir bergerak atau hati yang berzikirpun sudah sah, zikir harus meresap ke dalam hati, merasakan keluar masuknya nafas, menyatu dengan RASA, dengan sikap tunduk dan pasrah, ruangan dalam keadaan terang benderang...Manfaat zikir adalah untuk menumbuk hati yang keras, pada umumnya arwah-arwah atau nyawa yang tidak sempurna diakibatkan karena kerasnya hati. 

“ Sesungguhnya setan itu dapat berjalan pada tubuh anak cucu Adam melalui aliran darah.” 

(HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Ahkam no.7171 dan Muslim, Kitab As-Salam no. 2175) Tharekat adalah memisahkan sifat halal dan haram, sifat baik dan buruk, sifat haq dan bathil dll...
 

Jika seseorang mengamalkan amalan khusus seperti yang banyak tersebar di internet, mengamalkan tanpa guru, tanpa bimbingan seorang ahli ilmu, sangatlah berbahaya karena penyusup atau virus ini tidak akan tinggal diam. Virus ini akan menyerang hati dan otak, jika saringan otak sudah tidak berfungsi dan sudah tidak mampu lagi menyaring yang halus dan membuang yang kasar, maka hati pun jadi sakit di “ gerogoti “ oleh virus, menjadi hati yang keji, kata hati yang kasar dan perbuatan munkar, melaknat sesama manusia dengan nama binatang, hakikatnya yang melaknat tersebut  hatinya sudah dikapling Iblis. Jika sudah begini, apakah ibadah shalat di terima Allah?

Setiap ayat memiliki khodam, tapi apakah yang di amalkan mendatangkan sifat nurr ataukah sifat api? Setiap orang mempunyai SIFAT ILMU - nya masing - masing, semua asalnya dari satu cahaya, karena hati sudah dikapling virus maka berubah menjadi cahaya syaitan.


Apakah yang di undang itu Rahmat atau Istidraj? Sangat tipis, halus, bagaikan semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di kegelapan malam, di dalam gua yang gelap… yang benar dikatakan salah, yang salah dikatakan benar

Suatu amalan misalnya Istigfar, perlu jutaan wirid jika ingin mengetahui isi Istigfar. Seorang koruptor dan dukun mempunyai Istigfar, apakah Istigfarnya mampu mengundang Rahmat? Apakah Istigfarnya membuat hati, prilaku, perkataan menjadi semakin baik? ataukah masih  sering marah-marah? Apakah Istigfarnya sanggup menggetarkan jiwa? Apakah Istigfarnya mampu meneteskan air mata? Apakah Istigfar koruptor mampu mengusir virus yang sudah mengkapling hatinya? Tanpa disadari Virus ini sudah lama menutupi dirinya, dan menjadi benalu bagi dirinya, Virus yang sangat mengerikan, virus yang sanggup menyengsarakan jutaan rakyat Indonesia…


Taubat seorang koruptor dan para penjarah kekayaan Indonesia yaitu mengembalikan semua uang yang di korupsinya lalu meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia karena menyangkut Haqul Adam (Ishlah), kemudian setelah selesai, barulah dirinya memohon ampunan kepada Allah dan mengadakan pertaubatan, taubat di lakukan bukan ketika berbuat salah saja...
 

Virus bukan hanya dari amalan saja, tapi asalnya ada yang dari 7 turunan di atas, sifat ilmunya apakah sifat nur ataukah sifat api? Apakah yang di dapatkannya dari makanan haram, jalan rejeki yang haram ataukah barang haram? Apakah harta haramnya dizakatkan? Apakah harta haramnya di pakai berhaji?

Turun – temurun sifat ilmu mencari wadah di 7 turunan ke bawah, contohnya : seorang Ibu sanggup membunuh anaknya, tidak shalat, suami istri bertengkar hebat, tawuran, anak menadi musuh bagi orang tua dll. Hakikatnya adalah virus-virus yang menumpang pada nafsu…

Sebuah amalan haruslah di proses, teruji oleh hukum fiqihnya, ushul fiqih, kemana lughotnya dll, jika wadah kotor amalanpun belum teruji efeknya bisa jadi gila, sebagian orang mengatakan, jika mengikuti tasawuf bisa gila, ternyata yang tidak bertasawufpun sudah banyak yang hilang kesadaran dirinya, tidak tahu malu, tidak shalat, hidup dan rejeki-Nya di nikmati setiap saat, rejeki-Nya dihambur-hamburkan... 

Misi Iblis hanya satu yaitu MEMADAMKAN SHALAT...

Efek lain dari suatu amalan yang disisipi penyusup misalnya bisa ngobatin dengan kesembuhan yang sangat cepat, penyakitnya di pindahkan ke kambing, ternyata makhluk Jinn yang menahan sakit selama hidup si pasien, ketika sakaratul maut sangat susah nyawa untuk keluar karena Jinn ingin menguasai nyawa pasien.

Di sinilah peranan Aqiqah, Qurban, Kifarat Qurban = Aqoidul Iman 50 (dasar Islam) syarat dan rukunnya harus terpenuhi, di instal di jiwa menjadi anti virus, menguasai/paham ila ruhi, ila hadrotin, wa ila hadrotin, khususon ila ruhi, paham peta jalannya do’a, dari dhohir sampai baathin, dari dunia sampai akhirat, jika alamatnya salah maka makhluk bertanduk akan mengisapnya dan akan menjadi kekuatannya, mereka sangat pintar dan kuat, Iblis beribadah sudah ribuan tahun, sakti dan pintar, perlu kekuatan jasmani dan ruhani sebab sesembelihan adalah mengganti darah (membuang sampah) menjadi darah ilmu / sifat nur / kembali kepada sifat fitrah Ruh, memisahkan sifat halal dan sifat haram, sifat baik dan sifat buruk, haq dan bathil dll. Asalnya suci dan bersih maka kembalipun harus dalam keadaan suci dan bersih, tidak meninggalkan ampas.

Virus saat ini sudah banyak beredar di pasar, di jalan, di mall dll, keyakinan di perjual belikan (dukun, pesugihan, santet, tenung, harta karun dll) agar dagangan laris, mengurangi timbangan, agar usaha berhasil, agar jabatan naik, agar terlihat cantik dan memikat, agar di percaya atasan, tujuannya hanya untuk mencari jabatan, kekayaan dll. 

Berapa banyak jumlah pasar di Indonesia? Dan berapa banyak pedagang yang mengurangi timbangan? Berapa banyak pedagang kecil yang melakukan penipuan? Dari yang kecil sampai yang besar, berapa banyak prilaku buruk di negeri ini? Kelicikan, dusta, kebohongan, penipuan, zhalim dll.

Tanpa terasa bencana dan malapetaka sedang di undang di negeri ini... Banyak yang sudah bukan manusia sejati lagi tertukar dengan sifat munafik, sifat zhalim, sifat sombong dll...akhirat adalah gambaran dunia...

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar, taubat)”. (QS. Ar Ruum: 41)
DI DARAT = DAGING
DI LAUT = DARAH
TANGAN MANUSIA = ALAM PIKIR 


Di riwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal ra.,katanya: '' Saya bertanya: " Ya... Rosululloh, apakah gerangan maksud firman Alloh Azza Wajjala: pada hari di tiup sangkakala, lalu kamu datang berduyun-duyun'?'' Qs.An-Naba'-18.

Maka jawab Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam :
'' Wahai Mu'adz! sebenarnya engkau telah bertanya tentang persoalan yang amat besar besar!'' lalu berlinang airmata baginda karena menangis, kemudian Baginda bersabda:

Ada sepuluh golongan (SESAT) dari umatku yang di bangkitkan secara terpisah.mereka itu telah di pisahkan oleh Alloh dari kumpulan kaum muslimin yang lain dan di ubah wajah-wajah mereka, ada yang di rupakan seperti monyet, ada seperti babi, ada yang tubuhnya terbalik (kakinya di atas) dan di seret muka mereka, ada yang terpotong tangan dan kakinya atau mukanya, ada yang buta tersungkur, ada yang bisu tuli dan tidak berakal, ada yang mengunyah-ngunyah lidahnya sendiri yang menjulur sampai ke dada, dari mulut mereka mengalir nanah laksana air liur berbau busuk yang membuat semua orang merasa jijik kepadanya.

Ada yang terpotong tangan dan kakinya,ada yang di salib di atas palang-palang api, ada yang baunya lebih busuk dari bangkai dan ada pula yang berpakaian jubah-jubah panjang terbuat dari timah cair.

Adapun orang yang berwajah monyet,mereka adalah orang yang suka menyebarkan fitnah di antara manusia.
Yang serupa babi adalah orang yang suka makan harta haram dan merampas hak orang lain.
Yang tertelungkup, kepalanya di bawah dan kakinya di atas adalah kaum pemakan riba.
Yang dalam keadaan buta adalah mereka yang bertindak zalim dalam pemerintahan.
Yang buta-tuli ialah orang yang suka ujub (bangga dan sombong) dengan amalannya.
Yang mengunyah-ngunyah lidahnya sendiri adalah para ulama dan hakim yang kata-katanya berlawanan dengan perbuatannya.

Kemudian yang terpotong tangan dan kakinya
adalah orang yang selalu mengganggu tetangganya.
Yang tersalib di atas palang api adalah orang yang suka memfitnah orang lain kepada penguasa.
Yang baunya lebih busuk dari bangkai adalah orang yang selalu memuaskan hawa nafsunya,bergelimang dalam dosa syahwat serta menolak menunaikan hak Alloh dalam harta kekayaannya.
Adapun yang memakai baju panjang (terbuat dari timah cair) adalah orang yang selalu takabur suka bermegah dan memuji diri.''… http://titiantasbih.blogspot.com




Patokan kebenaran Islam adalah Al-Qur'an-Hadist, Imam Mahzab, Ijma, Qiyas, Dalil Aqli dan Naqli.


DALIL artinya Agung nama Maha Suci yaitu Qur’an buktinya, harus wajib dan percaya kepada Qur’an, jika tidak percaya, menjadi kufur kafir, cadangan Naraka Jahanam. 
HADIST artinya perkataan Nabi, yaitu Rasul-Rasul utusan Allah, wajib diturut. 
IJMA yaitu perkataan para Ulama Sejati, Wali Rasul juga para Muslim, wajib percaya. 
QIYAS artinya akal untuk digunakan kepada Dalil, Hadist, Ijma, agar terasa, makna Dalil Hadist dan Ijma untuk dipikir lagi agar nyata dengan barangnya. Hukum Akal : wajib, mustahil, wenang.

Sebab jika segala hal tidak memakai akal, tidak akan bisa jadi, ibarat keramaian Alam Dunia karya manusia, semakin tambah maju, dan menjadi bukti sekarang, dengan adanya pesawat terbang dan mobil dll, jadi ada, tentu saja memakai akal. 

Seharusnya jika berilmu, berilmu untuk baathin, ketenangan baathin untuk kelanggengan di Alam Baqa, jangan berdiam diri di Asma atau di perkataan, Asma adalah untuk petunjuk. 

Dalil, Hadist, Ijma, itu juga petunjuk, untuk menunjukkan jalan pulang, serta untuk menunjukkan kepada manusia bahwa manusia ada di Alam dunia wajib ibadah kepada Allah, agar sah ibadahnya, harus ma’rifat, kepada Dzat Sifat Allah, yaitu untuk tempat/wadah amal ibadah. Janganlah berdiam di Asma, tetap diam di papan petunjuk, jika begitu, tetap saja tidak akan sampai kepada yang dituju kepada asal tadi, karena tidak di cari jalannya, berdiam diri di papan petunjuk, yang di tunjuk tidak di susul atau di cari, tentu saja tidak akan ketemu.

Ibaratnya jika ingin tahu kepada satu kota yaitu Jakarta, ketika di Cianjur melihat ada jalan persimpangan, dan ada salah satu papan nama dengan tanda panah menunjukkan arah ke Jakarta, kemudian berdiri dan diam di depan papan petunjuk, tentu saja tidak akan tahu kota Jakarta, karena jalannya tidak di cari seperti yang di tunjuk oleh tanda panah, bagaimana mau tahu Jakarta, karena sudah betah di papan petunjuk, hurufnya Asma Jakarta, petunjuk ibaratnya Dalil Al-Qur’an yang menuduhkan jalan, hukum Qiyas harus dikuasai, untuk akal melalui tharekat ilmu, agar supaya bisa datang masuk ke kota Jakarta sampai dengan ‘ainal yakin, pasti, tidak mengandalkan katanya…


Al-Qur’an Dalam Pandangan Hakikat ada 4 yaitu :
1. Al-Qur’anul MAJID
2. Al-Qur’anul KARIM
3. Al-Qur’anul HAKIM
4. Al-Qur’anul ADHIM



1. Al-Qur’anul MAJID ialah Al-Qur’an yang ada HURUF-nya, yaitu berupa KITAB yang kita baca dan dikaji umat sedunia, inilah manual (gambaran) dari Al-Qur’an yang HIDUP.

2. Al-Qur’anul KARIM ialah Al-Qur’an yang MULIA, yaitu yang telah membuat hingga Al-Qur’an itu bisa ditulis ke dalam sebuah kitab, hasil karya dari tulisan tangan dan jari-jari yang MULIA.

3. Al-Qur’anul HAKIM ialah Al-Qur’an yang AGUNG. yaitu MATA, karena PENGLIHATAN-nya maka tangan dan jari-jarinya dapat menulis. Jadi yang AGUNG itu MATA dan PENGLIHATAN-nya.

4. Al-Qur’anul ADHIM ialah Al-Qur’an yang SUCI dan ABADI. Itulah yang HIDUP, karena walau ada tangan dan jarinya serta mata dan penglihatan, tetap tidak akan terwujud Al-Qur’an kalau tidak ada yang HIDUP (hidup mulia pertama yang mengadakan Qur’an itu)

Al-Qur’an = Hidup
Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi Wassalam adalah Al-Qur’an yang berjalan (Hidup)
Jadi Al-Qur’an yang hidup adalah INSAN.

mengaji Al-Qur’an harus sampai kepada SUCI-nya, maka itulah yang SEMPURNA (Melalui 4 tahapan pengkajian Al-Qur’an diatas).

Al-Qur’anul Majid (Al-Qur’an yang ada hurufnya) inilah SYARIAT-nya, setelah dibaca harus dikaji yaitu diartikan apa maksudnya, setelah mengerti maksud-maksudnya segera cari tahu dan amalkan agar terasa manfaatnya (Tangan yang bergerak) inilah THAREKAT-nya.


Semua berawal dari Al-Qur’anul Majid (Manual Book) yang telah menunjuki jalan mengenal Allah dan Rasul-Nya kemudian dilanjutkan dengan “membaca” Al-Qur’anul Karim artinya mengkaji pekerjaan tangan dan jari yang sekiranya bisa menghantarkan kepada Allah dan Rasulullah.

Allah memberi tangan dan jari kepada manusia, bukan hanya digunakan untuk membuat dan mengerjakan barang-barang yang berhubungan dengan sifat ke-dunia-an  saja tetapi haruslah dipakai dengan membuat jalan untuk mengenal Allah dan Rasulullah agar tangan manusia menjadi MULIA.

“Asa bi’ahum fi adanihim minassowaiki hadarotil mauti wallahi muhitun bil kafirin” 


Artinya : Jika tangan dan jari kamu tidak digunakan untuk mengenali jalan kematian, maka tangan dan jari kamu bermartabat tangan dan jari hewan saja…

Dari Al-Qur’anul Karim naik kepada Al-Qur’anul Hakim bagian HAKIKAT, yaitu harus mengkaji pekerjaan PENGLIHATAN yang sekiranya belum HAKIM.. “Sidik jari” atau bukti pada barang yang SUCI dan ABADI itu. Hakikatnya adalah ALLAH dan MUHAMMAD.

Karena ALLAH dan MUHAMMAD yang memberikan MATA dan PENGLIHATAN itu, penglihatan juga bukan untuk dipakai melihat barang yang hanya berhubungan dengan keduniaan saja, tetapi harus juga dipakai untuk melihat dengan mata Baathin HAKIKAT ALLAH dan RASULULLAH.

Inilah Al-Qur’an yang dimaksud dengan sebenar-benarnya Al-Qur’an yaitu Al-Qur’anul ADHIM yang SUCI lagi ABADI, yang sifatnya HIDUP, yang telah ditanamkan pada dada setiap INSAN dan menjadi IMAM dan juga sebagai IMAN untuk memisah yang HAQ dan yang BATHIL yang bertaraf MA’RIFAT.

Peralatan TANGAN, JARI, PENGLIHATAN, PENDENGARAN, PENCIUMAN DAN PERKATAAN, harus digunakan untuk mengetahui kepada asalnya yaitu Allah Ta’ala, supaya nanti manusia bisa sempurna membawanya pulang/kembali kepada Allah Ta’ala. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”
. http://hukumalam.wordpress.com


KESIMPULAN AL - QUR'AN :
Ditolak dari segala bala, di dekatkan rejeki, diberi panjang umur untuk dipakai jalan ibadah, diberi kekayaan untuk bekal ibadah kepada Allah dan Rasulullah.


Hakikat beragama adalah untuk mengeluarkan hati dari alam kegelapan...


IMAM ABU HANIFAH ( HANAFI ) (85 - 150 H)
(Nu’man bin Tsabit - Ulama besar pendiri mazhab Hanafi)
Beliau adalah murid dari Ahli Silsilah Tarekat Naqsyabandi yaitu Imam Jafar as Shadiq ra . Berkaitan dengan hal ini, Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah berkata, “Jika tidak karena dua tahun, aku telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.


IMAM MALIKI (93 - 179 H)
(Malik bin Anas - Ulama besar pendiri mazhab Maliki) juga murid Imam Jafar as Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut :

“Man tasawaffa wa lam yatafaqa faqad tazandaqa, wa man tafaqaha wa lam yatasawaf faqad tafasaq, wa man tasawaffa wa taraqaha faqad tahaqaq”.

Artinya : “Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih Kebenaran dan Realitas dalam Islam.” 
(’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, juz 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).

IMAM SYAFI’I (Muhammad bin Idris, 150 - 205 H)

Ulama besar pendiri mazhab Syafi’i berkata, “Saya berkumpul bersama orang-orang tasawuf dan menerima 3 ilmu:
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara
2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.”
(Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al Albas, Imam ‘Ajluni, juz 1, hal. 341)

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir di Thus ; 1058 / 450 H – meninggal di Thus ; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.

Hadist shahih dianggap bathil jika perawinya melakukan kencing sambil berdiri...

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:  

"Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain" 


Jalan yang diajarkan syariát islam adalah jalan yang paling tepat dalam pengerjaan ibadah kepada Allah. Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah istiqomah dalam mengerjakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya. (Syaikh Abdul Qadir Jailani).