Laman

Kamis, 11 April 2013

HAKIKAT AL - QUR'AN DAN AGAMA








Ini adalah diwan Imam Syafi'i yang sudah dihilangkan.
DIWAN IMAM SYAFI’I :

فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
 
Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. 

Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan taqwa. 

Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik? 
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]

 ISLAM ; " Aslama yuslimu Islaman fa huwa muslimun"
" Ila Ibadaka min humul mukhlasin" 


*Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata: 
Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: 
Sesungguhnya Allah tidak mengambil ILMU dengan cara mencabutnya begitu saja dari manusia, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu dengan cara mencabut (nyawa) para ulama, sehingga ketika Allah tidak meninggalkan seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh yang apabila ditanya mereka akan memberikan fatwa tanpa didasarkan ilmu lalu mereka pun sesat serta menyesatkan.

*Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: 
Sesungguhnya menjelang terjadinya hari kiamat terdapat beberapa hari di mana pada hari-hari itu ilmu akan diangkat, diturunkan kebodohan dan banyak terjadi peristiwa pembunuhan. 

*Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:
Di antara tanda-tanda hari kiamat ialah diangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, banyak yang meminum arak, dan timbulnya perzinaan yang dilakukan secara terang-terangan.

*Hadis riwayat Abu Musa r.a.: Dari Nabi Muhammad
Shalallahu 'alaihi wassalam, bahwa beliau bersabda: 
Perumpamaan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dalam mengutusku untuk menyampaikan PETUNJUK dan ILMU adalah seperti hujan yang membasahi bumi. 

Sebagian tanah bumi tersebut ada yang subur sehingga dapat menyerap air serta menumbuhkan rerumputan dan sebagian lagi berupa tanah-tanah tandus yang tidak dapat menyerap air, lalu Allah memberikan manfaatnya kepada manusia sehingga mereka dapat meminum darinya, memberi minum dan menggembalakan ternaknya di tempat itu, yang lain menimpa tanah datar yang gundul yang tidak dapat menyerap air dan menumbuhkan rumput. 

Itulah perumpamaan orang yang mendalami ilmu agama Allah dan memanfaatkannya sesuai ajaran yang Allah utus kepadaku di mana dia tahu dan mau mengajarkannya. 
Dan juga perumpamaan orang yang keras kepala yang tidak mau menerima petunjuk Allah, yang karenanya aku diutus.


RUKUN AGAMA 

Agama artinya adalah HIDUP, sebab jika tidak ada hidup, tidak akan ada nama Agama, Islam juga tidak akan ada, begitu juga dengan rukun-rukunnya sudah pasti tidak ada.

Jadi SIFAT HIDUP adalah pasti, yaitu sejatinya Agama atau sifat ilmu yaitu ilmu hidup/aturan hidup, berilmu harus sampai kepada terangnya, sifat Agama harus disusul, jangan hanya di kira-kira, Rukun Agama harus ketemu, tentu dengan syariatnya, hakikatnya, tharekatnya dan ma’rifatnya
yang sejati karena di bagian BAB ILMU, RASA yang akan menerimanya :

Tharekat Shalat - ILMU > BUKTI > KEYAKINAN
- Naqsabandiyah - MANDI
- Naqodariyah - SHALAT
- Naqsyatariyah - WIRID
Menyelam ke dalam samudera diri.

ALIF - LAM - MIM
Allah - Malaikat - Muhammad
To'at - Taubat - Munajat


Fi'il Amar - Shalat To'at - PERKATAAN 
"Ati'ullaha wa ati'ur rasula wa ulil amri minkum"
Fi'il Madhi - Shalat Taubat - I'TIQOD
" Taubatan nasuha ", nasuh = bersih dari ujung rambut sampai telapak kaki = ISLAM KAFFAH.
Fi'il Mudhari - Shalat Munajat - PRILAKU 

"Ud'uni astajib lakum"

Naqsabandiyah - Naqodariyah - Naqsatariyah
> KUNCI (Dzulfiqor) 
> PINTU ILMU (Sayyidina Ali bin Abi Thalib) 
> RUMAH ILMU (Baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam)

TIDAK ADA KAITAN dengan Khidir

Shalat To’at, Shalat Taubat, Shalat Munajat.
Mandi (penghilang hijab) dan wirid/zikir ini BUKAN BAGIAN dari BAB IBADAH.



BAB IBADAH adanya di shalat fardhu yaitu ma’rifat laku ibadah hasil dari kitab di dapat dengan mencontoh, tetap masuk kepada yang empat, syariat, hakikat, tharekat dan ma’rifat.

Ibarat mau bikin kursi, niat yang pertama, sesudah niat tentu adanya hakikat, adanya hakikat adalah dari ma’rifat dan pengetahuan, Sebab tadi sudah menjadi ilmu, sudah TAHU dan BISA membuat kursi, terus memakai tharekat sampai syariat, sifatnya menjadi kursi dan rupa kursi, perjalanan ilmu tegasnya adalah untuk mencari ma’rifatnya kepada Yang Maha Agung, yaitu kepada Dzat dan Sifat-Nya Allah Ta’ala, yaitu wujud ilmu atau sejatinya Agama

Jalannya rukun yang 4 perkara, syariat hakikat, tharekat dan ma’rifat, adanya di wujud dalam badan manusia, jadi namanya rukun agama adalah bagian ilmu untuk menyusul kepada wujud/fitrah agama, yaitu sifatnya hidup atau ilmu hidup yang meliputi semuanya.

SYARIAT pokoknya ada di mulut, jalan untuk bicara, itulah PERKATAAN manusia, sejatinya syariat perkataan adalah pasti karena membuktikan segalanya, keramaian alam dunia bibitnya adalah dari perkataan, adanya mobil, gedung-gedung, bangunan dll semuanya untuk membuktikan maksud.

Walaupun ada niat, bahan-bahan sudah tersedia, tetap saja tidak akan jadi karena tidak adanya perkataan, batal dan tidak jadi [hakikat] niat adalah yang menentukan segala perkara, jika ngaji hakikat tidak dibarengi dengan syariat, batal menurut hadist dan segala sesuatu tidak akan jadi maksud karena pokoknya syariat adalah yakin dengan ilmunya, yaitu sejatinya ucapan manusia.

THAREKAT
nyatanya adalah PENDENGARAN, selamanya bekerja tidak ada istirahat, ketika melek, semua suara kumpul, pendengaranlah yang menerima.

HAKIKAT nyatanya PENCIUMAN yang ada di wujud manusia. Ibarat mau makan sate kambing, sebelum mulut merasakan, penciuman yang lebih dulu merasakan wanginya, hakikat pada hakikat, sebab hakikat itu ada, tapi tidak ada rupa, yang ada adalah wangi sate kambing, begitupun penciuman tidak ada rupa, buktinya adalah sifat sate kambing yaitu bagian penglihatan.

MA’RIFAT nyatanya adalah PENGLIHATAN, sifatnya mata yang nyata, mata yang mensahkan sifat-sifat yang di dhohir, bergulung kepada penglihatan, disebut pengetahuan lahir dan baathin, tidak ada bedanya nama rukun Agama atau rukun Ilmu, adalah untuk memberi tahu Agama. Ibaratnya ;


Ilmu Syariat : Sabut kelapa
Ilmu Tharekat : Batok kelapa
Ilmu Hakikat : Daging kelapa
Ilmu Mari'fat : Air kelapa
Ilmu Ismu Dzat : Minyak kelapa murni

Agama yang sejati, yaitu SIFAT HIDUP MANUSIA, sesudah tahu kepada sejatinya Agama, barulah rukun Islam, dan sesudah Islam, haruslah bersungguh-sungguh dengan rukunnya, yaitu yang 5 perkara :
1. Syahadat 

2. Shalat
3. Zakat 
4. Puasa
5. Haji

Rukun Iman : Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat - Malaikat Allah, Iman kepada Kitab - Kitab Allah, Iman kepada Rasul - Rasul Allah, Iman kepada Hari Kiamat, Iman kepada Qadha dan Qadar.

RUKUN IMAN :
Tasdiqul qolbi bimaa jaa bihinnabiyyu shollallohu 'alaihi wassalam.

Mengakui dan menerima oleh hati kepada perkara-perkara yang di sampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam ;

RUKUN ISLAM :
Al inqiyadu bil ahkamisy-syar'iyati.

Menurut dan pasrah menerima kepada perintah hukum syara’ (Ummat Baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam)


RUKUN IHSAN :
Anta'buda robbaka ka annaka taroohu fain lam takun taroohu fainnahu yarooka.

Tidak punya rasa kehilangan, rasa di ingatkan oleh Alloh.
Syarat Iman :
1. Ma’rifat
2. Iddi’an yaitu hati mengakui .
3. Qobuul yaitu menerima dengan hati kepada perkara-perkara yang di sampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam
4. Iqror dua kalimah syahadat oleh lisan.

MA’RIFAT :

Idrookun jaazimun bihaitsu laisa ma'ahu taroddudun
muwaafiqun limaa fil waaqi'i naasyiun'an dalilin.
Artinya : pengetahuan yang pasti, tidak terkena oleh perubahan, yang sama dengan buktinya yang timbul dari alasan yaitu pengetahuan hati yang sama dengan pendapat para Imam, Ijma Ulama yaitu yang menetapkan kepada Allah oleh sifat 20 wajib, 20 mustahil dan satu yang wenang FI’LU MUMKININ DAN WA TARKU MUMKININ 

Rukun artinya adalah, rukunnya :
1. Penglihatan
2. Pendengaran
3. Penciuman
4. Perkataan.
ke lima adalah Rasa Rasulullah (penguasa RASA)

- Fiqih tanpa Tasawuf adalah Fasik. Tasawuf tanpa Fiqih adalah Zindiq...
Fiqih melahirkan zuhud dan tekun, hidup dipenuhi dengan aturan. Taqwa lahir dari tharekat baathin, sejatinya taqwa adalah mengejar kepada poros diri agar ‘itiqod / tekad tidak nyasar.

- Tasawuf adalah segala hal yang menyangkut tentang kesucian jiwa... 
-Ngaji Tauhid ibarat berdiri di depan sebuah perangkap, salah masuk akan terpenjara sepanjang hidup...
 - Ngaji Fiqih ibarat berjalan di atas mata gergaji, salah langkah, kaki berdarah...

Ngaji Tasawuf ibarat berjongkok di atas bara api, 
SANGGUP DINGIN DI HAWA PANAS dari godaan duniawi, godaan Iblis, siap di cela, siap di hina, siap tidak di hargai, siap di sesatkan, siap di kafirkan, siap direndahkan, dan siap dengan segala sesuatu yang menyakitkan yang datang kepada hati...

Melapangkan hati ketika di hina...
Melapangkan hati ketika di cela...
Melapangkan hati ketika di sesatkan...
 
Melapangkan hati ketika di kafirkan...
Melapangkan hati ketika di khianati...
Melapangkan hati ketika di rendahkan...
Melapangkan hati ketika datang musibah...
Melapangkan hati ketika datang malapetaka...dlsb.
Menerima segala yang datang dengan ucapan Istigfar, hakikatnya adalah Allah sedang mengangkat derajat akhirat... 


 

 " Ngaji keluar dari poros diri, hanya akan menjauhkan diri dengan Allah "

 " Tharekat adalah suatu perjalanan ruhani di dunia menggunakan kendaraan shalat untuk menemukan hakikat jati diri dan memahami seluk beluk jiwa… 
Jalan terjal berbatu yang penuh onak dan duri untuk menemukan SETETES RAHMAT yang langgeng di dunia dan akhirat "

Sebuah perjalanan diri, mengaji ke dalam poros diri untuk menjalankan turbin di jagat shagir, isinya adalah menzakatkan diri, menzakatkan tenaga, menzakatkan harta, membereskan diri, mendekatkan diri, mensucikan diri dll, melalui pengijazahan dari Ustadz, amalan khusus tharekat tidak bisa di babar di umum, akibatnya bisa berbahaya karena wadah di diri seseorang sangatlah menentukan, tentunya yang sangat mengetahui perihal wadah adalah Ahli Zikir. 10 tahun ber-tharekat belum tentu seseorang bisa mencapai derajat ma'rifat...Hanya kehendak Allah yang bisa menjadikan seseorang untuk bisa mencapai derajat ma'rifat...

Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam mengalami tahun duka cita selama 2 tahun, di usia 25 di angkat menjadi Nabi, dan di usia 40 di angkat menjadi Rasul, selisih 15 tahun, dan selama 15 tahun tidak pernah ketinggalan shalat malam (tharekat), umatnya bertaubat selama 15 tahun untuk mencapai derajat maghfirah. 

Nabi Adam alaihissalam pun bertaubat selama hidupnya...dan seperti halnya terompah yang di pakai Nabi Musa alaihissalam, yang diharuskan di tinggalkan yaitu kotoran lahir = dunia dan baathin = akhirat... Nabi Adam menempatkan kematian berada depan muka, dan dunia berada dibelakang kepala...

Usia 40 tahun adalah sebagai patokan, jika sebelum usia 40 prilaku masih betah dengan sifat keburukan dan tidak mengalami tahun duka cita, maka ketika melewati usia 40 akan sulit kembali kepada sifat kebaikan...Kecuali pertolongan Allah...Memasuki usia 60 tahun akan kembali kesadarannya...Tetapi yang tidak sadarpun banyak alias linglung.

Jika usia sekarang 60 tahun, dikurangi 15 tahun 
(masa akil baligh) = 45 tahun maka akan menjadi 45 buku catatan amal yang tersimpan di Lauh Mahfudz, setiap setahun sekali terjadi pergantian buku catatan amal yaitu pada waktu Nisfu Sa'ban, untuk dipertemukan dengan Ramadhan. Iedul fitri. Minal ' Aidin wal Faizin, halal bi halal, asal halal kepada halal, asal bersih kepada bersih, asal suci kepada suci, dihalalkan hidup dan diri, dengan cara memaafkan diri sendiri, bertemunya fitrah diri dengan fitrah agama untuk menjadikan selarasnya jalan kehidupan dan agama, kembali kepada fitrah untuk menjalani kehidupan 11 bulan ke depan...

Rebo wekasan di bulan safar memang tidak ada di dalam syariat, itu hanya judul saja, intinya adalah berdo'a untuk menolak bala penyakit karena di bulan safar adalah turunnya 40 induk penyakit yang menyerang fikir, akal, jasad. Ahli tharekat berdo'a karena penyakit ini berkaitan dengan alam metafisik. Begitupun dengan tawassul, ada ilmu tawassul, hakikat tawasul dan tawasul, ada ziarah, ilmu ziarah dan hakikat ziarah, intinya adalah berdo'a. Niat pergi haji ketika haji menjadi pencopet, semua tergantung kepada NIAT dan PEKERJAAN masing - masing. 



 ‘’Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka tanyakanlah olehmu kepada para AHLI ILMU, jika kamu tidak mengetahui.’’   
QS. Al Anbiyaa’ (21): 7.

Ahli Zikir mampu mengetahui dan
mengusir virus jika mengganggu orang, mampu berdialog dengan virus – virus yang ada pada diri seseorang, tahu khodam isi ayat. Ahli Zikir tahu obat dan dosis yang harus di gunakan. Ahli zikir tahu do'a Nabi Isa alahissalam ketika membangunkan orang mati. Ahli zikir tahu do'a Nabi Musa alahissalam ketika membuka lautan dan menutup lautan. 

Adab berzikir yaitu duduk di atas sajadah, kepala memakai peci, tidak bersuara keras, tidak menggoyangkan kepala dan badan, bahkan selembar rambutpun tidak ada yang bergerak, suara ayat hanya terdengar oleh telinga sendiri, bibir bergerak atau hati yang berzikirpun sudah sah, zikir harus meresap ke dalam hati, merasakan keluar masuknya nafas, berzikir dengan hati menyatu dengan rasa, dengan sikap tunduk dan pasrah, ruangan dalam keadaan terang benderang...

Manfaat zikir adalah untuk menumbuk nafsu yang keras, pada umumnya arwah-arwah atau nyawa yang tidak sempurna diakibatkan karena sifat nafsu (satu tetes darah amarah) yang tidak bersih. Kenyataannya mereka atau nyawa - nyawa yang tidak sempurna memohon pertolongan minta dikirim barokah Fatihah (114 huruf asror malaikat). Tentu saja Fatihah tidak akan sampai kepada orang yang mati, tapi akan sampai kepada yang HIDUP.

- 3 hari belum sadar dari kematian...

- 7 hari berada di sekitar rumah...
- 40 hari pulang pergi dari kuburan ke rumah...
" Kenapa saya jadi "begini", padahal waktu di dunia saya shalat "...
" Kenapa saya berada di selokan "...
Syariat tanpa Hakikat = Tahayul


"Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (Barzakh)
sampai hari mereka dibangkitkan.
(QS. Al Mu'minun : 99-100)


Jika ingin tahu rupa Jin berkacalah ketika sedang marah, jengkel, rewel. Berkacalah ketika amarah mulai meluap...

 “ Sesungguhnya setan itu dapat berjalan pada tubuh anak cucu Adam melalui aliran darah.” 
(HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Ahkam no.7171 dan Muslim, Kitab As-Salam no. 2175) Tharekat adalah memisahkan unsur sifat halal dan haram, sifat baik dan buruk, sifat haq dan bathil dll...
 

Jika seseorang mengamalkan amalan khusus seperti yang banyak tersebar di internet, buku mujarobat dlsb, mengamalkan tanpa guru, tanpa bimbingan seorang ahli ilmu sangatlah berbahaya karena penyusup atau virus ini tidak akan tinggal diam. Virus ini akan menyerang hati dan otak jika saringan otak sudah tidak berfungsi dan sudah tidak mampu lagi menyaring yang halus dan membuang yang kasar maka hati pun jadi sakit di “ gerogoti “ oleh virus, darah menjadi kotor karena amalan - amalan junub sudah dibeli (di wirid). 

Perkataan hati menjadi keji, kasar dan perbuatan menjadi munkar, melaknat sesama manusia dengan nama binatang, hakikatnya yang melaknat tersebut hatinya sudah dikapling Iblis. Hati menjadi terhijab, jika sudah begini, apakah shalatnya di terima Allah? Setiap ayat memiliki khodam, tapi apakah yang di amalkan mendatangkan cahaya nur ataukah cahaya syaitan?


Apakah yang di undang itu RAHMAT atau ISTIDRAJ? Sangat tipis, halus, bagaikan semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di kegelapan malam, di dalam gua yang gelap… yang benar dikatakan salah, yang salah dikatakan benar

Suatu amalan misalnya istigfar, perlu jutaan wirid jika ingin mengetahui isi istigfar. Seorang koruptor dan dukun mempunyai istigfar, apakah istigfarnya mampu mengundang rahmat? Apakah istigfarnya membuat hati, prilaku, perkataan menjadi semakin baik? Ataukah masih sering marah-marah? Apakah istigfarnya sanggup menggetarkan jiwa? Apakah istigfarnya mampu meneteskan air mata? Apakah istigfar koruptor mampu mengusir virus yang sudah mengkapling hatinya? Tanpa disadari virus ini sudah lama menutupi dirinya dan menjadi benalu bagi dirinya, virus yang sangat mengerikan, virus yang sanggup menyengsarakan jutaan rakyat Indonesia…

Taubat seorang koruptor dan para penjarah kekayaan Indonesia yaitu mengembalikan semua uang yang di korupsinya lalu meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia karena menyangkut Haqul Adam (Ishlah), kemudian setelah selesai, barulah dirinya memohon ampunan kepada Allah dan mengadakan pertaubatan, taubat di lakukan bukan ketika berbuat salah saja...
 

Virus bukan hanya dari amalan saja, tapi asalnya ada yang dari 7 turunan di atas, sifat ilmunya apakah sifat nur ataukah sifat api? Apakah yang di dapatkannya dari makanan haram, jalan rejeki yang haram ataukah barang haram? Apakah harta haramnya dizakatkan? Apakah harta haramnya di pakai berhaji?

Turun – temurun sifat ilmu mencari wadah di 7 turunan ke bawah, contohnya : seorang Ibu sanggup membunuh anaknya, tidak shalat, suami istri bertengkar hebat, tawuran, anak menadi musuh bagi orang tua dlsb. Hakikatnya adalah virus-virus yang menumpang pada nafsu…

Sebuah amalan haruslah di proses, teruji oleh hukum fiqihnya, ushul fiqih, kemana lughotnya, jika wadah kotor amalanpun belum teruji efeknya bisa jadi gila, sebagian orang mengatakan jika mengikuti tasawuf bisa gila, ternyata yang tidak bertasawufpun sudah banyak yang hilang kesadaran dirinya, tidak tahu malu, tidak shalat, hidup dan rejeki-Nya di nikmati setiap saat, rejeki-Nya dihambur-hamburkan... 

Misi Iblis hanya satu yaitu MEMADAMKAN SHALAT...

Di sinilah peranan Aqiqah, Qurban, Kifarat Qurban = Aqoidul Iman 50 (dasar Islam) syarat dan rukunnya harus terpenuhi di instal di jiwa menjadi anti virus, ahli ilmu harus menguasai/paham ila ruhi, ila hadrotin, wa ila hadrotin, khususon ila ruhi, paham peta jalannya do’a dari dhohir sampai baathin dari dunia sampai akhirat, jika alamatnya salah maka makhluk bertanduk akan mengisapnya dan akan menjadi kekuatannya, mereka sakti, pintar dan kuat.

Satu tetes darah merah dari amarah yang tidak dibersihkan akan menyerupai diri sendiri. Iblis beribadah sudah ribuan tahun, sakti, pintar, kuat dan senjatanya (umpan) adalah DUNIA. Jika umpan sudah dimakan maka akan sulit untuk melepaskan diri dari mata kail, perlu ilmu, perlu pengorbanan harta, usia juga waktu...

Sesembelihan memerlukan kekuatan jasmani dan ruhani karena darah diganti (membuang sampah) menjadi darah ilmu/sifat nur (rijalullah-rijalul'alam). Hanya jalan BERSIH yang mampu mengalahkan Iblis dan yang diinginkan oleh Allah sebenarnya-benarnya adalah manusia " kembali " dalam keadaan bersih (menguasai ilmu wudhu dan mandi)

Virus - virus saat ini sudah banyak beredar di pasar, di jalan, di mall dlsb, keyakinan di perjual belikan (dukun, pesugihan, santet, harta karun dlsb) agar dagangan laris, mengurangi timbangan, agar usaha berhasil, agar jabatan naik, agar terlihat cantik dan memikat, agar di percaya atasan, tujuannya hanya untuk mencari jabatan, melanggengkan jabatan, memperkaya diri. 

Berapa banyak jumlah pasar di Indonesia? Dan berapa banyak pedagang yang mengurangi timbangan? Berapa banyak pedagang kecil yang melakukan penipuan? Dari yang kecil sampai yang besar, berapa banyak prilaku buruk di negeri ini? Kelicikan, dusta, kebohongan, penipuan, zhalim menjadi hal biasa, tanpa terasa bencana dan malapetaka sedang di undang di negeri ini... Manusia tertukar dengan sifat munafik, sifat zhalim, sifat sombong...Akhirat adalah gambaran dunia...

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar, taubat)”. (QS. Ar Ruum: 41)
DI DARAT = DAGING
DI LAUT = DARAH
TANGAN MANUSIA = ALAM FIKIR 



Di riwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal ra.,katanya: '' Saya bertanya: " Ya... Rosululloh, apakah gerangan maksud firman Alloh Azza Wajjala: pada hari di tiup sangkakala, lalu kamu datang berduyun-duyun'?'' Qs.An-Naba'-18.

Maka jawab Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam :
'' Wahai Mu'adz! sebenarnya engkau telah bertanya tentang persoalan yang amat besar besar!'' lalu berlinang airmata baginda karena menangis, kemudian Baginda bersabda:


Ada sepuluh golongan (SESAT) dari umatku yang di bangkitkan secara terpisah.mereka itu telah di pisahkan oleh Alloh dari kumpulan kaum muslimin yang lain dan di ubah wajah-wajah mereka, ada yang di rupakan seperti monyet, ada seperti babi, ada yang tubuhnya terbalik (kakinya di atas) dan di seret muka mereka, ada yang terpotong tangan dan kakinya atau mukanya, ada yang buta tersungkur, ada yang bisu tuli dan tidak berakal, ada yang mengunyah-ngunyah lidahnya sendiri yang menjulur sampai ke dada, dari mulut mereka mengalir nanah laksana air liur berbau busuk yang membuat semua orang merasa jijik kepadanya.

Ada yang terpotong tangan dan kakinya,ada yang di salib di atas palang-palang api, ada yang baunya lebih busuk dari bangkai dan ada pula yang berpakaian jubah-jubah panjang terbuat dari timah cair.

Adapun orang yang berwajah monyet,mereka adalah orang yang suka menyebarkan fitnah di antara manusia.
Yang serupa babi adalah orang yang suka makan harta haram dan merampas hak orang lain.
Yang tertelungkup, kepalanya di bawah dan kakinya di atas adalah kaum pemakan riba.
Yang dalam keadaan buta adalah mereka yang bertindak zalim dalam pemerintahan.
Yang buta-tuli ialah orang yang suka ujub (bangga dan sombong) dengan amalannya.
Yang mengunyah-ngunyah lidahnya sendiri adalah para ulama dan hakim yang kata-katanya berlawanan dengan perbuatannya.

Kemudian yang terpotong tangan dan kakinya
adalah orang yang selalu mengganggu tetangganya.
Yang tersalib di atas palang api adalah orang yang suka memfitnah orang lain kepada penguasa.
Yang baunya lebih busuk dari bangkai adalah orang yang selalu memuaskan hawa nafsunya,bergelimang dalam dosa syahwat serta menolak menunaikan hak Alloh dalam harta kekayaannya.
Adapun yang memakai baju panjang (terbuat dari timah cair) adalah orang yang selalu takabur suka bermegah dan memuji diri.''… http://titiantasbih.blogspot.com



Parameter kebenaran Islam adalah :
1. Al-Qur'an - Hadist
2. Ijma
3. Qiyas
4. Dalil Aqli dan Naqli

DALIL artinya Agung nama Maha Suci yaitu Qur’an buktinya, harus wajib dan percaya kepada Qur’an, jika tidak percaya menjadi kufur kafir cadangan neraka jahanam. 
HADIST artinya perkataan Nabi, yaitu Rasul-Rasul utusan Allah, wajib diturut. 
IJMA yaitu perkataan para Ulama Sejati, Wali Rasul juga para Muslim, wajib percaya. 
QIYAS artinya akal untuk digunakan kepada dalil, hadist, ijma, agar terasa, makna dalil hadist dan ijma untuk dipikir lagi agar nyata dengan barangnya. Hukum akal : wajib, mustahil, wenang.

Sebab jika segala hal tidak memakai akal, tidak akan bisa jadi, ibarat keramaian alam dunia karya manusia, semakin tambah maju, dan menjadi bukti sekarang, dengan adanya pesawat terbang dan mobil dlsb jadi ada, tentu saja memakai akal. 

Seharusnya jika berilmu, berilmu untuk baathin, ketenangan baathin untuk kelanggengan di alam baqa, jangan berdiam diri di asma atau di perkataan, asma adalah untuk petunjuk. 

Dalil, hadist, ijma, itu juga petunjuk, untuk menunjukkan jalan pulang, serta untuk menunjukkan kepada manusia bahwa manusia ada di alam dunia wajib ibadah kepada Allah, agar sah ibadahnya, harus ma’rifat, kepada Dzat Sifat Allah, yaitu untuk tempat/wadah amal ibadah. Janganlah berdiam di asma, tetap diam di papan petunjuk, jika begitu tetap saja tidak akan sampai kepada yang dituju kepada asal tadi karena tidak di cari jalannya, berdiam diri di papan petunjuk, yang di tunjuk tidak di susul atau di cari tentu saja tidak akan ketemu.

Ibaratnya jika ingin tahu kepada satu kota yaitu Jakarta, ketika di Cianjur melihat ada jalan persimpangan dan ada salah satu papan nama dengan tanda panah menunjukkan arah ke Jakarta, kemudian berdiri dan diam di depan papan petunjuk, tentu saja tidak akan tahu kota Jakarta, karena jalannya tidak di cari seperti yang di tunjuk oleh tanda panah, bagaimana mau tahu Jakarta karena sudah betah di papan petunjuk, hurufnya asma Jakarta. Petunjuk ibaratnya dalil Al-Qur’an yang menuduhkan jalan, hukum qiyas harus dikuasai, untuk akal melalui tharekat ilmu, agar supaya bisa datang masuk ke kota Jakarta sampai dengan ‘ainal yakin, pasti, tidak mengandalkan katanya…


Al-Qur’an Dalam Pandangan Hakikat ada 4 yaitu :
1. Al - Qur’anul MAJID
2. Al - Qur’anul KARIM
3. Al - Qur’anul HAKIM
4. Al - Qur’anul ADHIM



1. Al-Qur’anul MAJID ialah Al-Qur’an yang ada HURUF-nya, yaitu berupa KITAB yang kita baca dan dikaji umat sedunia, inilah manual (gambaran) dari Al-Qur’an yang HIDUP.

2. Al-Qur’anul KARIM ialah Al-Qur’an yang MULIA, yaitu yang telah membuat hingga Al-Qur’an itu bisa ditulis ke dalam sebuah kitab, hasil karya dari tulisan tangan dan jari-jari yang MULIA.

3. Al-Qur’anul HAKIM ialah Al-Qur’an yang AGUNG. yaitu MATA, karena PENGLIHATAN-nya maka tangan dan jari-jarinya dapat menulis. Jadi yang AGUNG itu MATA dan PENGLIHATAN-nya.

4. Al-Qur’anul ADHIM ialah Al-Qur’an yang SUCI dan ABADI. Itulah yang HIDUP, karena walau ada tangan dan jarinya serta mata dan penglihatan, tetap tidak akan terwujud Al-Qur’an kalau tidak ada yang HIDUP (hidup mulia pertama yang mengadakan Qur’an itu)

Al-Qur’an = Hidup
Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi Wassalam adalah Al-Qur’an yang berjalan (Hidup)
Jadi Al-Qur’an yang hidup adalah INSAN.

mengaji Al-Qur’an harus sampai kepada SUCI-nya, maka itulah yang SEMPURNA (Melalui 4 tahapan pengkajian Al-Qur’an diatas).

Al-Qur’anul Majid (Al-Qur’an yang ada hurufnya) inilah SYARIAT-nya, setelah dibaca harus dikaji yaitu diartikan apa maksudnya, setelah mengerti maksud-maksudnya segera cari tahu dan amalkan agar terasa manfaatnya (tangan yang bergerak) inilah THAREKAT-nya.


Semua berawal dari Al-Qur’anul Majid (manual book) yang telah menunjuki jalan mengenal Allah dan Rasul-Nya kemudian dilanjutkan dengan “membaca” Al-Qur’anul Karim artinya mengkaji pekerjaan tangan dan jari yang sekiranya bisa menghantarkan kepada Allah dan Rasulullah.

Allah memberi tangan dan jari kepada manusia, bukan hanya digunakan untuk membuat dan mengerjakan barang-barang yang berhubungan dengan sifat ke-dunia-an  saja tetapi haruslah dipakai dengan membuat jalan untuk mengenal Allah dan Rasulullah agar tangan manusia menjadi MULIA.

“Asa bi’ahum fi adanihim minassowaiki hadarotil mauti wallahi muhitun bil kafirin” 

Artinya : Jika tangan dan jari kamu tidak digunakan untuk mengenali jalan kematian, maka tangan dan jari kamu bermartabat tangan dan jari hewan saja…

Dari Al-Qur’anul Karim naik kepada Al-Qur’anul Hakim bagian HAKIKAT, yaitu harus mengkaji pekerjaan PENGLIHATAN yang sekiranya belum HAKIM.. “Sidik jari” atau bukti pada barang yang SUCI dan ABADI itu. Hakikatnya adalah ALLAH dan MUHAMMAD.

Karena ALLAH dan MUHAMMAD yang memberikan MATA dan PENGLIHATAN itu, penglihatan juga bukan untuk dipakai melihat barang yang hanya berhubungan dengan keduniaan saja, tetapi harus juga dipakai untuk melihat dengan mata Baathin HAKIKAT ALLAH dan RASULULLAH.

Inilah Al-Qur’an yang dimaksud dengan sebenar-benarnya Al-Qur’an yaitu Al-Qur’anul ADHIM yang SUCI lagi ABADI, yang sifatnya HIDUP, yang telah ditanamkan pada dada setiap INSAN dan menjadi IMAM dan juga sebagai IMAN untuk memisah yang HAQ dan yang BATHIL yang bertaraf MA’RIFAT.

Peralatan TANGAN, JARI, PENGLIHATAN, PENDENGARAN, PENCIUMAN DAN PERKATAAN, harus digunakan untuk mengetahui kepada asalnya yaitu Allah Ta’ala, supaya nanti manusia bisa sempurna membawanya pulang/kembali kepada Allah Ta’ala. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”
. http://hukumalam.wordpress.com


Barang siapa buta hatinya maka tidak akan tersentuh agama ini kecuali hanya kulit dan tanda-tandanya saja, sedangkan intisari hakikat - hakikat agama tidak tersentuh sama sekali. (Ihya Ulumuddin Buku IV)

KESIMPULAN AL - QUR'AN :
Ditolak dari segala bala, di dekatkan rejeki, diberi panjang umur untuk dipakai jalan ibadah, diberi kekayaan, syariatnya antar sesama manusia untuk bekal ibadah kepada Allah dan Rasulullah. Sumber ilmu yang bersih adalah dari akhirat, karena dunia adalah tempat kotor.


Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.  
QS. Al Waaqiah (56) : 77-79

Ilmu yang diangkat oleh Allah Ta'ala pertama kali adalah ILMU FARAID dan yang terakhir diangkat adalah ILMU TAUHID.

Umum : Hija'iyah
Tharekat : Toja'iyah (berlawanan dengan jasad)
Umum : Keterangan menjadi pekerjaan
Tharekat : Pekerjaan menjadi keterangan. 
Ex: Ketika seorang ibu sedang duduk bersimpuh di atas sajadah mengamalkan sebuah amalan wirid/zikir di malam hari, akhirnya setelah sekian hari nampak di depan sajadahnya bumi menjadi terbelah dan di dalam bumi terlihat orang-orang berteriak di dalam neraka. Hal seperti ini adalah merupakan kehendak Allah untuk memperlihatkan ilmu-Nya, tanpa bisa diminta dan tanpa bisa ditolak. Anugrah baathin/pengalaman ruhani yang tidak ada di dunia. 


Sahabat Anas bin Malik meriwayatkan. Suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam sedang berjalan-jalan. Beliau bertemu dengan seorang sahabat Anshar bernama Haritsah.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam bertanya: "Bagaimana keadaanmu ya Haritsah?" 
Haritsah menjawab : "Hamba sekarang benar-benar menjadi seorang mukmin billah". Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam menjawab: "Yaa Haritsah, pikirkanlah dahulu apa yang engkau ucapkan itu, setiap ucapan itu harus dibuktikan!" 
Haritsah menjawab : "Ya Rasulullah, hawa nafsu telah menyingkir, kalau malam tiba hamba berjaga untuk beribadah kepada Allah dan di waktu siang hamba berpuasa..." Sekarang ini hamba dapat melihat Arsy Allah tampak dengan jelas di depan hamba... Hamba dapat melihat orang di surga saling kunjung mengunjungi, Hamba dapat melihat orang di neraka berteriak-teriak...
"Maka Rasulullah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam berkata : "Engkau menjadi orang yang Imannya dinyatakan dengan terang oleh Allah Subḥānahu wa ta'āla di qolbimu".


Hakikat beragama adalah untuk mengeluarkan hati dari alam kegelapan fikir dan akal...

Al - Qur'an terdiri dari 6666 ayat, 863 ayat berkaitan dengan akal dan fikir hasil dari proses jiwa yang kekuatannya tidak melalui jasad dan juga panca indera.

BUKAN Al-Qur'an yang ditarik kepada ilmu pengetahuan, tetapi ilmu pengetahuan yang ditarik kepada Al-Qur'an.
BUKAN Al-Qur'an yang ditarik kepada lakon hidup, tetapi lakon hidup yang ditarik kepada Al-Qur'an.
ISLAM SEJATI = Buta - Tuli - Bisu - Lumpuh.

Sahabat empat - ke lima Rasulullah.
Imam empat - ke lima Baitullah.

1. IMAM ABU HANIFAH ( HANAFI ) (85 - 150 H)
(Nu’man bin Tsabit - Ulama besar pendiri mazhab Hanafi)
Beliau adalah murid dari Ahli Silsilah Tarekat Naqsyabandi yaitu Imam Jafar as Shadiq ra . Berkaitan dengan hal ini, Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah berkata, “Jika tidak karena dua tahun, aku telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.


2. IMAM MALIKI (93 - 179 H)
(Malik bin Anas - Ulama besar pendiri mazhab Maliki) juga murid Imam Jafar as Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut :

“Man tasawaffa wa lam yatafaqa faqad tazandaqa, wa man tafaqaha wa lam yatasawaf faqad tafasaq, wa man tasawaffa wa taraqaha faqad tahaqaq”.

Artinya : “Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih Kebenaran dan Realitas dalam Islam.” 
(’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, juz 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).

3. IMAM SYAFI’I (Muhammad bin Idris, 150 - 205 H)

Ulama besar pendiri mazhab Syafi’i berkata, “Saya berkumpul bersama orang-orang tasawuf dan menerima 3 ilmu:
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara
2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.”
(Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al Albas, Imam ‘Ajluni, juz 1, hal. 341)

4. ABU HAMID MUHAMMAD bin MUHAMMAD  al GHAZALI ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir di Thus ; 1058 / 450 H – meninggal di Thus ; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.

Hadist shahih dianggap bathil jika perawinya melakukan kencing sambil berdiri...Rawi awal > Munqoti < Rawi akhir

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:  

"Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain" 

> SUMBER KEBAIKAN adalah Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam
> SUMBER KEJAHATAN adalah Iblis